A. Pengertian
berpikir
Berpikir adalah
suatu kegiatan mental yang melibatkan kerja otak. Walaupun tidak bisa
dipisahkan dari aktivitas kerja otak, pikiran manusia lebih dari sekedar kerja
organ tubuh yang disebut otak. Kegiatan berpikir juga melibatkan seluruh
pribadi manusia dan juga melibatkan perasaan dan kehendak manusia.
B. Berpikir
tingkat tinggi
Berpikir Tingkat
Tinggi, Higher-order Thinking. Berbasis kepada Taksonomi Bloom, terdapat tiga
aspek dalam ranah kognitif yang menjadi bagian dari kemampuan berpikir tingkat
tinggi atau higher-order thinking. Ketiga aspek itu adalah aspek analisa, aspek
evaluasi dan aspek mencipta.
C. Karakteristik
Berpikir Tingkat Tinggi
Secara umum,
keterampilan berfikir terdiri atas empat tingkat, yaitu: menghafal (recall thinking), dasar (basic
thinking), kritis (critical thinking) dan kreatif (creative thinking) (Krulik
& Rudnick, 1999).
Menghafal adalah tingkat berfikir
paling rendah. Keterampilan ini hampir
otomatis atau refleksif sifatnya. Contoh dari keterampilan ini adalah menghafal
3 x 4 = 12 dan 5 + 4 = 9. Mengingat
alamat atau nomor HP seseorang termasuk dalam keterampilan tingkat ini. Siswa, terutama pada kelas-kelas awal,
seringkali dipaksa untuk menghafal fakta-fakta ini.
Tingkat berfikir selanjutnya
disebut sebagai keterampilan dasar.
Keterampilan ini meliputi memahami konsep-konsep seperti penjumlahan dan
pengurangan, termasuk aplikasinya dalam soal-soal. Contoh dari konsep perkalian adalah mencari
harga total 12 kilogram beras bila harga perkilonya adalah Rp 6.350,00.
Berfikir kritis adalah berfikir
yang memeriksa, menghubungkan, dan mengevaluasi semua aspek situasi atau
masalah. Termasuk di dalamnya
mengumpulkan, mengorganisir, mengingat, dan menganalisa informasi. Berfikir
kritis termasuk kemampuan membaca dengan pemahaman dan mengidentifikasi materi
yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkan. Kemampuan menarik kesimpulan yang benar
dari data yang diberikan dan mampu menentukan ketidak-konsistenan dan
pertentangan dalam sekelompok data merupakan bagian dari keterampilan berfikir kritis.
Dengan kata lain, berfikir kritis adalah analitis dan refleksif.
Beberapa kemampuan yang dikaitkan
dengan konsep berpikir kritis, adalah kemampuan-kemampuan untuk memahami
masalah, menyeleksi informasi yang penting untuk menyelesaikan masalah,
memahami asumsi-asumsi, merumuskan dan menyeleksi hipotesis yang relevan, serta
menarik kesimpulan yang valid dan menentukan kevalidan dari
kesimpulan-kesimpulan (Dressel dan Mayhew) (Watson dan Glaser, 1980:1). Dari
pendapat para ahli seperti telah diutarakan di atas, dapat disimpulkan bahwa
berpikir kritis merupakan bagian dari penalaran.
Bonnie dan Potts (2003) berpendapat
bahwa terdapat beberapa kemampuan yang terpisah yang berkaitan dengan kemampuan
yang menyeluruh untuk berpikir kritis, yaitu: menemukan analogi-analogi dan
macam hubungan yang lain antara potongan-potongan informasi, menentukan
kerelevanan dan kevalidan informasi yang dapat digunakan untuk pembentukan dan
penyelesaian masalah, serta menemukan dan mengevaluasi penyelesaian atau
cara-cara lain dalam menyelesaikan masalah. Meskipun semua pendapat di atas
berbeda, namun pada hakekatnya memiliki kesamaan pada aspek mengumpulkan,
mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara efektif.
Dengan demikian agar para siswa
tidak salah pada waktu membuat keputusan dalam kehidupannya, mereka perlu
memiliki kemampuan berpikir kritis yang baik. Menurut Ruber (Romlah, 2002: 9)
dalam berpikir kritis siswa dituntut menggunakan strategi kognitif tertentu
yang tepat untuk menguji keandalan gagasan, pemecahan masalah, dan mengatasi
masalah serta kekurangannya. Hal ini sejalan dengan pendapat Tapilouw (Romlah,
2002:9), bahwa “berpikir kritis merupakan berpikir disiplin yang dikendalikan
oleh kesadaran. Cara berpikir ini merupakan cara berpikir yang terarah,
terencana, mengikuti alur logis sesuai dengan fakta yang diketahui”.
Tingkatan yang terakhir adalah
berfikir kreatif yang sifatnya orisinil dan reflektif. Hasil dari keterampilan berfikir ini adalah
sesuatu yang kompleks. Kegiatan yang
dilakukan di antaranya menyatukan ide, menciptakan ide baru, dan menentukan
efektifitasnya. Berfikir kreatif
meliputi juga kemampuan menarik kesimpulan yang biasanya menelorkan hasil akhir
yang baru.
D. Permasalahan
Seperti yang kita ketahui, sebenarnya banyak orang yang bisa berpikir tingkat tinggi, yang bisa dikatakan berpikir yang berbeda dari masyarakat umumnya, dan cenderung yang dipikirkan itu adalah hal-hal yang tidak biasa. Namun tidak banyak orang yang bisa dengan gamblang menyatakan atau mengungkapkan pemikirannya tersebut, karena takut tidak bisa diterima oleh masyarakat. Lalu menurut teman-teman sekalian bagaimana cara untuk mengatasi hal tersebut?

menurut saya setiap orang mempunyai rasa percaya diri yang berbeda. jika percaya diri rendah akan lebih susah untuk menyampaikan pendapat sedangkan jika rasa percaya diri tinggi akan mudah untuk mengungkapkan pendapat sendiri. jadi untuk mengatasi persmasalahan tersebut yaitu dengan meningkatkan rasa percaya diri sehingga lebih mudah mengungkapkan pendapatnya yang dapat diterima oleh masyarakat.
BalasHapusBagaimana cara meningkatkan rasa percaya diri tersebut?
BalasHapussepertinya memang benar jadi kita harus meningkatkan rasa percaya diri kita agar bisa dengan gamblang mengungkapkan pendapat. dan untuk bagaimana meningkatkan rasa percaya diri tersebut, saya pikir itu lebih kepada sugesti dari diri kita masing-masing. berikanlah sugesti yang baik pada diri kita, contoh berikan sugesti pada diri kita bahwa kita bisa jika orang lain bisa kenapa kita tidak bisa.
BalasHapuscara meningkatkan rasa percaya diri menurut saya tergantung diri kita masing-masing, salah satunya dengan berpikir positif tentang kemampuan yang kita miliki. pengaruh segusti juga sangat penting dalam kehidupan manusia. jika kita berpikiran kalau kita tidak percaya diri atau takut dalam mengemukakan pendapat maka otak kita akan bekerja sesuai dengan sugesti sehingga kita menjadi tidak percaya diri. sedangkan jika berpikir kalau kita bisa mengemukakan pendapat maka otak kita akan bekerja menjadi percaya diri. jadi intinya tergantung dari keinginan, keyakinan diri kita masing". selain itu juga salah satu penyebab seseoarng itu tidak percaya diri karena tidak menguasai materi yang dipelajari sehingga tidak mengerti apa pendapat yang akan diberikan.
BalasHapussependapat dengan saudari yelda bahwa memang itu semua kembali kedalam diri masing-masing, karena setiap orang itu berbeda, begitu pula tingkat pemehamannya terhadap suatu materi pelajaran. jika memang ia sangat menguasai mata pelajaran tersebut saya pikir tidak ada alasan untuk tidak dapat mengungkakan pendapat.
BalasHapus