Selasa, 28 Februari 2017

Berpikir Tingkat Tinggi pada Pembelajaran Kimia




   A.      Pengertian berpikir
Berpikir adalah suatu kegiatan mental yang melibatkan kerja otak. Walaupun tidak bisa dipisahkan dari aktivitas kerja otak, pikiran manusia lebih dari sekedar kerja organ tubuh yang disebut otak. Kegiatan berpikir juga melibatkan seluruh pribadi manusia dan juga melibatkan perasaan dan kehendak manusia.

   B.      Berpikir tingkat tinggi
Berpikir Tingkat Tinggi, Higher-order Thinking. Berbasis kepada Taksonomi Bloom, terdapat tiga aspek dalam ranah kognitif yang menjadi bagian dari kemampuan berpikir tingkat tinggi atau higher-order thinking. Ketiga aspek itu adalah aspek analisa, aspek evaluasi dan aspek mencipta.

   C.      Karakteristik Berpikir Tingkat Tinggi
Secara umum, keterampilan berfikir terdiri atas empat tingkat, yaitu:  menghafal (recall thinking), dasar (basic thinking), kritis (critical thinking) dan kreatif (creative thinking) (Krulik & Rudnick, 1999).
            Menghafal adalah tingkat berfikir paling rendah.  Keterampilan ini hampir otomatis atau refleksif sifatnya. Contoh dari keterampilan ini adalah menghafal 3 x 4 = 12 dan 5 + 4 = 9.  Mengingat alamat atau nomor HP seseorang termasuk dalam keterampilan tingkat ini.  Siswa, terutama pada kelas-kelas awal, seringkali dipaksa untuk menghafal fakta-fakta ini.
            Tingkat berfikir selanjutnya disebut sebagai keterampilan dasar.  Keterampilan ini meliputi memahami konsep-konsep seperti penjumlahan dan pengurangan, termasuk aplikasinya dalam soal-soal.  Contoh dari konsep perkalian adalah mencari harga total 12 kilogram beras bila harga perkilonya adalah Rp 6.350,00.
            Berfikir kritis adalah berfikir yang memeriksa, menghubungkan, dan mengevaluasi semua aspek situasi atau masalah.  Termasuk di dalamnya mengumpulkan, mengorganisir, mengingat, dan menganalisa informasi. Berfikir kritis termasuk kemampuan membaca dengan pemahaman dan mengidentifikasi materi yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkan. Kemampuan menarik kesimpulan yang benar dari data yang diberikan dan mampu menentukan ketidak-konsistenan dan pertentangan dalam sekelompok data merupakan bagian dari keterampilan berfikir kritis. Dengan kata lain, berfikir kritis adalah analitis dan refleksif.
            Beberapa kemampuan yang dikaitkan dengan konsep berpikir kritis, adalah kemampuan-kemampuan untuk memahami masalah, menyeleksi informasi yang penting untuk menyelesaikan masalah, memahami asumsi-asumsi, merumuskan dan menyeleksi hipotesis yang relevan, serta menarik kesimpulan yang valid dan menentukan kevalidan dari kesimpulan-kesimpulan (Dressel dan Mayhew) (Watson dan Glaser, 1980:1). Dari pendapat para ahli seperti telah diutarakan di atas, dapat disimpulkan bahwa berpikir kritis merupakan bagian dari penalaran.
            Bonnie dan Potts (2003) berpendapat bahwa terdapat beberapa kemampuan yang terpisah yang berkaitan dengan kemampuan yang menyeluruh untuk berpikir kritis, yaitu: menemukan analogi-analogi dan macam hubungan yang lain antara potongan-potongan informasi, menentukan kerelevanan dan kevalidan informasi yang dapat digunakan untuk pembentukan dan penyelesaian masalah, serta menemukan dan mengevaluasi penyelesaian atau cara-cara lain dalam menyelesaikan masalah. Meskipun semua pendapat di atas berbeda, namun pada hakekatnya memiliki kesamaan pada aspek mengumpulkan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara efektif.
            Dengan demikian agar para siswa tidak salah pada waktu membuat keputusan dalam kehidupannya, mereka perlu memiliki kemampuan berpikir kritis yang baik. Menurut Ruber (Romlah, 2002: 9) dalam berpikir kritis siswa dituntut menggunakan strategi kognitif tertentu yang tepat untuk menguji keandalan gagasan, pemecahan masalah, dan mengatasi masalah serta kekurangannya. Hal ini sejalan dengan pendapat Tapilouw (Romlah, 2002:9), bahwa “berpikir kritis merupakan berpikir disiplin yang dikendalikan oleh kesadaran. Cara berpikir ini merupakan cara berpikir yang terarah, terencana, mengikuti alur logis sesuai dengan fakta yang diketahui”.
            Tingkatan yang terakhir adalah berfikir kreatif yang sifatnya orisinil dan reflektif.  Hasil dari keterampilan berfikir ini adalah sesuatu yang kompleks.  Kegiatan yang dilakukan di antaranya menyatukan ide, menciptakan ide baru, dan menentukan efektifitasnya.  Berfikir kreatif meliputi juga kemampuan menarik kesimpulan yang biasanya menelorkan hasil akhir yang baru.


D. Permasalahan
Seperti yang kita ketahui, sebenarnya banyak orang yang bisa berpikir tingkat tinggi, yang bisa dikatakan berpikir yang berbeda dari masyarakat umumnya, dan cenderung yang dipikirkan itu adalah hal-hal yang tidak biasa. Namun tidak banyak orang yang bisa dengan gamblang menyatakan atau mengungkapkan pemikirannya tersebut, karena takut tidak bisa diterima oleh masyarakat. Lalu menurut teman-teman sekalian bagaimana cara untuk mengatasi hal tersebut?

5 komentar:

  1. menurut saya setiap orang mempunyai rasa percaya diri yang berbeda. jika percaya diri rendah akan lebih susah untuk menyampaikan pendapat sedangkan jika rasa percaya diri tinggi akan mudah untuk mengungkapkan pendapat sendiri. jadi untuk mengatasi persmasalahan tersebut yaitu dengan meningkatkan rasa percaya diri sehingga lebih mudah mengungkapkan pendapatnya yang dapat diterima oleh masyarakat.

    BalasHapus
  2. Bagaimana cara meningkatkan rasa percaya diri tersebut?

    BalasHapus
  3. sepertinya memang benar jadi kita harus meningkatkan rasa percaya diri kita agar bisa dengan gamblang mengungkapkan pendapat. dan untuk bagaimana meningkatkan rasa percaya diri tersebut, saya pikir itu lebih kepada sugesti dari diri kita masing-masing. berikanlah sugesti yang baik pada diri kita, contoh berikan sugesti pada diri kita bahwa kita bisa jika orang lain bisa kenapa kita tidak bisa.

    BalasHapus
  4. cara meningkatkan rasa percaya diri menurut saya tergantung diri kita masing-masing, salah satunya dengan berpikir positif tentang kemampuan yang kita miliki. pengaruh segusti juga sangat penting dalam kehidupan manusia. jika kita berpikiran kalau kita tidak percaya diri atau takut dalam mengemukakan pendapat maka otak kita akan bekerja sesuai dengan sugesti sehingga kita menjadi tidak percaya diri. sedangkan jika berpikir kalau kita bisa mengemukakan pendapat maka otak kita akan bekerja menjadi percaya diri. jadi intinya tergantung dari keinginan, keyakinan diri kita masing". selain itu juga salah satu penyebab seseoarng itu tidak percaya diri karena tidak menguasai materi yang dipelajari sehingga tidak mengerti apa pendapat yang akan diberikan.

    BalasHapus
  5. sependapat dengan saudari yelda bahwa memang itu semua kembali kedalam diri masing-masing, karena setiap orang itu berbeda, begitu pula tingkat pemehamannya terhadap suatu materi pelajaran. jika memang ia sangat menguasai mata pelajaran tersebut saya pikir tidak ada alasan untuk tidak dapat mengungkakan pendapat.

    BalasHapus