Kimia merupakan
cabang ilmu yang paling penting dan dianggap sebagai pelajaran yang sulit untuk
siswa oleh guru kimia, peneliti, dan pendidik pada umumnya. Meskipun alasannya
bervariasi dari sifat konsep – konsep kimia yang abstrak hingga kesulitan penggunaan
bahasa kimia. Ada dua alasan utama kesulitan yang dihadapi oleh siswa, pertama
topic dalam kimia sangat abstrak dan kedua kata – kata yang biasa digunakan
dalam kehidupan sehari – hari memiliki arti berbeda dalam kimia. Karena
miskonsepsi siswa ini penting, identifikasi pemahaman dan miskonsepsi siswa
menjadi masalah utama dalam penelitian dalam tahun – tahun terakhir ini (Ozmen,
2004).
1. Pembelajaran Kimia
Pembelajaran
yang bermakna merupakan suatu proses dikaitannya informasi baru pada
konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif siswa. Belajar
merupakan aktifitas seseorang melalui proses sehingga menghasilkan perubahan
terhadap diri seseorang yang menjalani proses belajar.
Ilmu Kimia
merupakan ilmu yang diperoleh dan dikembangkan berdasarkan eksperimen yang
mencari jawaban atas pertanyaan apa, mengapa dan bagaimana gejala-gejala alam;
khususnya yang berkaitan dengan komposisi, struktur dan sifat, transformasi,
dinamika dan energetika tentang materi. Oleh karena itu, kimia mempelajari
segala sesuatu tentang materi dan perubahannya yang melibatkan keterampilan dan
penalaran. Ilmu kimia merupakan produk (pengetahuan kimia yang berupa fakta,
teori, prinsip, hukum) temuan saintis dan proses (kerja ilmiah) yang dapat
mengembangkan sikap ilmiah.
Menurut
Middlecamp & Kean, llmu kimia memiliki ciri-ciri khusus, diantaranya
sebagian besar berisi konsep kimia yang selalu bersifat abstrak, konsep-konsep
kimia sifatnya berurutan dan berkembang dengan cepat, tidak sekedar berisi
pemecahan tes-tes, konsep-konsep kimia jumlahnya sangat banyak dengan
karakteristik setiap topik berbeda-beda. Oleh karena ciri-ciri ilmu kimia
tersebut menyebabkan sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam belajar
kimia.
2. Konsep
Siswa dalam
kehidupan sehari-hari selalu berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Adanya
interaksi tersebut akan mempermudah siswa dalam berkomunikasi dan apabila ia
menerima rangsangan dari lingkungannya maka ia memberikan aksi atau tindakan
terhadapnya. Pada kegiatan tersebut siswa telah memperoleh pengalaman fisik dan
mempelajarinya. Pengalaman fisik memungkinkan siswa mengembangkan aktivitas
atau daya otaknya sehingga ia mampu mentransfer aktifitas fisiknya menjadi
gagasan-gagasan atau ide-ide sehingga terjadi proses berpikir. Jadi konsep
merupakan proses abstraksi dari ciri-ciri sesuatu yang mempermudah komunikasi
antara manusia dan memungkinkan manusia berpikir.
Dari penjelasan
diatas jadi konsep adalah gagasan atau ide tentang suatu yang disepakati
bersama berdasarkan pemahaman ilmiah. Konsepsi (persepsi) adalah pandangan atau
pemahaman terhadap suatu konsep.
3. Pemahaman Konsep
Siswa diharapkan
dalam proses pembelajaran dapat menjelaskan kriteria dibawah ini yaitu:
Mendefinisikan
konsep yang bersangkutan
Menjelaskan
perbedaan antara konsep yang bersangkutan dengan konsep-konsep yang lain.
Menjelaskan
hubungan dengan konsep-konsep yang lainnya.
Menjelaskan arti
konsep dalam kehidupan sehari-hari dan menerapkannya untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan
keempat kriteria diatas, dapat diketahui apakah seorang siswa sudah memahami
konsep atau belum. Apabila sudah memahami konsep maka siswa harus memenuhi kriteria
tersebut. Pada kenyataannya, tidak semua siswa mempunyai pemahaman yang sama
tentang suatu konsep.
4. Miskonsepsi
a. Pengertian Miskonsepsi
Proses
pembelajaran, tidak menutup kemungkinan terjadinya berbagai kesalahan.
Kesalahan yang dibuat oleh siswa dalam belajar diantaranya adalah kesalahan
dalam berhitung atau salah dalam penulisan rumus, kesalahan-kesalahan dalam
mengingat atau menghafal. Kesalahan yang terjadi secara terus-menerus serta
menunjukkan kesalahan konsep dikenal dengan salah konsep atau miskonsepsi.
Miskonsepsi merupakan suatu konsep yang tidak sesuai dengan pengertian yang
diterima para pakar dalam bidang tersebut. Bentuk miskonsepsi dapat berupa
konsep awal, kesalahan, hubungan yang tidak benar antar konsep-konsep, gagasan
intuitif atau pandangan yang naif.
Menurut Treagust
miskonsepsi merupakan kesalahan siswa dalam pemahaman suatu konsep. Hal ini
terjadi karena siswa tidak mampu menghubungkan fenomena yang ditemukan dalam
kehidupan sehari-hari dengan pengetahuan yang diperoleh disekolah.Pemahaman
konsep yang tidak sesuai dengan masyarakat ilmiah ini disebut juga dengan
konsep alternatif (David F, 2006).
Brown dengan
artikelnya menjelaskan miskonsepsi sebagai suatu pandangan yang naif dan
mendefinisikannya sebagai suatu gagasan yang tidak sesuai dengan pengertian
ilmiah yang sekarang diterima. Sedangkan Feldsine menemukan miskonsepsi sebagai
suatu kesalahan dan hubungan yang tidak benar antara konsep-konsep. Flowler
dalam suparno menjelaskan miskonsepsi sebagai pengertian yang tidak akurat akan
konsep, penggunaan konsep yang salah, klasifikasi contoh-contoh yang salah,
kekacauan konsepkonsep yang berbeda dan hubungan hirarkis konsep-konsep yang
tidak benar (Paul Suparno, 2004. Hal:4).
Berdasarkan dari
beberapa pendapat dan uraian tersebut maka dapat dikatakan miskonsepsi atau
salah paham adalah konsepsi (persepsi) yang berbeda dengan konsepsi ilmiah.
b. Penyebab Miskonsepsi
Pertanyaannya
adalah bagaimana miskonsepsi terbentuk? Dalam proses pembelajaran, peserta didik
akan mengolah informasi yang masuk ke dalam otak mereka. Jika informasi yang
diterima sesuai dengan struktur konsep yang ada, informasi ini akan langsung
menambah jaringan pengetahuan mereka, proses ini disebut proses asimilasi. Jika
informasi tidak sesuai, mereka akan melakukan penyusunan ulang struktur
kognitif mereka hingga informasi ini dapat menjadi bagian dari jaringan
pengetahuan mereka (Paul Suparno; Sanger & Greenbowe, 1997).
Dalam proses
menyampaikan informasi baru ke dalam struktur kognitif mereka, peserta didik
sering kali mengalami kesulitan, bahkan kegagalan. Hal inilah yang kemudian
menjadi timbulnya miskonsepsi pada kognitif peserta didik. Lebih jelas,
miskonsepsi didefinisikan sebagai pengetahuan konseptual dan proporsional
peserta didik yang tidak konsisten atau berbeda dengan kesepakatan ilmuwan yang
telah diterima secara umum dan tidak dapat menjelaskan secara tepat fenomena
ilmiah yang diamati. Perlu ditekankan bahwa miskonsepsi peserta didik dapat
dengan tepat menjelaskan pengalaman dan pengamatan peserta didik yang sesuai
dengan logika peserta didik dan konsisten dengan pemahaman mereka tentang
dunia. Oleh karena itu, miskonsepsi sangat sukar untuk diubah (Sanger &
Greenbowe, 1997).
Miskonsepsi yang
terjadi dalam pembelajaran kimia berhubungan dengan kesulitan dalam memahami
materi ilmu kimia. Terjadinya miskonsepsi dapat disebabkan oleh gagasan-gagasan
yang tidak ilmiah yang muncul dalam pikiran-pikiran siswa. Penyebab
sesungguhnya seringkali juga sulit diketahui, karena siswa kadang-kadang tidak
secara terbuka mengungkapkan bagaimana hingga mereka memiliki konsep yang tidak
tepat tersebut.
Filsafat
konstruktivisme secara singkat menyatakan bahwa pengetahuan itu dibentuk
(dikonstruksi) oleh siswa sendiri dalam kontak dengan lingkungan, tantangan dan
bahan yang dipelajari. Oleh karena siswa sendiri yang mengonstruksikan
pengetahuannya, maka tidak mustahil dapat terjadi kesalahan dalam
mengonstruksi.
Proses
konstruksi tersebut diperoleh melalui interaksi dengan benda, kejadian dan
lingkungan. Pada saat siswa berinteraksi dengan lingkungan belajarnya, siswa
mengonstruksi pengetahuan berdasarkan pengalamannya. Ketika proses konstruksi
pengetahuan terjadi pada siswa maka sangat besar kemungkinan terjadi kesalahan
karena secara alami siswa belum terbiasa mengkonstruksi pengetahuan sendiri
secara tepat (Paul Suparno, 2004. Hal : 10).
menurut anda jika suatu sekolah menerapkan K-13 dimana pembelajara berpusat pada siswa dimana dari siswa, oleh siswa dan untuk siswa.dimana siswa belum megerti apa yang dipelajari kemungkinan terjadinya miskonsepsi pada proses pembelajaran sangat mungkin terjadi . bagaiamana peran seorang guru dalam mengatasi kondisi seperti ini?
BalasHapusmenurut saya disitulah peran guru yang sebenarnya diaman guru harus bisa memantau jalannya proses pembelajaran dengan baik, dimana kalaupun dilakukan diskusi kecil dalam kelompok tidak akan menimbulkan miskonsepsi
BalasHapus