Sabtu, 11 Maret 2017

Miskonsepsi Dalam Pembelajaran Kimia


Kimia merupakan cabang ilmu yang paling penting dan dianggap sebagai pelajaran yang sulit untuk siswa oleh guru kimia, peneliti, dan pendidik pada umumnya. Meskipun alasannya bervariasi dari sifat konsep – konsep kimia yang abstrak hingga kesulitan penggunaan bahasa kimia. Ada dua alasan utama kesulitan yang dihadapi oleh siswa, pertama topic dalam kimia sangat abstrak dan kedua kata – kata yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari – hari memiliki arti berbeda dalam kimia. Karena miskonsepsi siswa ini penting, identifikasi pemahaman dan miskonsepsi siswa menjadi masalah utama dalam penelitian dalam tahun – tahun terakhir ini (Ozmen, 2004).

1.        Pembelajaran Kimia
Pembelajaran yang bermakna merupakan suatu proses dikaitannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif siswa. Belajar merupakan aktifitas seseorang melalui proses sehingga menghasilkan perubahan terhadap diri seseorang yang menjalani proses belajar.
Ilmu Kimia merupakan ilmu yang diperoleh dan dikembangkan berdasarkan eksperimen yang mencari jawaban atas pertanyaan apa, mengapa dan bagaimana gejala-gejala alam; khususnya yang berkaitan dengan komposisi, struktur dan sifat, transformasi, dinamika dan energetika tentang materi. Oleh karena itu, kimia mempelajari segala sesuatu tentang materi dan perubahannya yang melibatkan keterampilan dan penalaran. Ilmu kimia merupakan produk (pengetahuan kimia yang berupa fakta, teori, prinsip, hukum) temuan saintis dan proses (kerja ilmiah) yang dapat mengembangkan sikap ilmiah.
Menurut Middlecamp & Kean, llmu kimia memiliki ciri-ciri khusus, diantaranya sebagian besar berisi konsep kimia yang selalu bersifat abstrak, konsep-konsep kimia sifatnya berurutan dan berkembang dengan cepat, tidak sekedar berisi pemecahan tes-tes, konsep-konsep kimia jumlahnya sangat banyak dengan karakteristik setiap topik berbeda-beda. Oleh karena ciri-ciri ilmu kimia tersebut menyebabkan sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam belajar kimia.

2.        Konsep
Siswa dalam kehidupan sehari-hari selalu berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Adanya interaksi tersebut akan mempermudah siswa dalam berkomunikasi dan apabila ia menerima rangsangan dari lingkungannya maka ia memberikan aksi atau tindakan terhadapnya. Pada kegiatan tersebut siswa telah memperoleh pengalaman fisik dan mempelajarinya. Pengalaman fisik memungkinkan siswa mengembangkan aktivitas atau daya otaknya sehingga ia mampu mentransfer aktifitas fisiknya menjadi gagasan-gagasan atau ide-ide sehingga terjadi proses berpikir. Jadi konsep merupakan proses abstraksi dari ciri-ciri sesuatu yang mempermudah komunikasi antara manusia dan memungkinkan manusia berpikir.
Dari penjelasan diatas jadi konsep adalah gagasan atau ide tentang suatu yang disepakati bersama berdasarkan pemahaman ilmiah. Konsepsi (persepsi) adalah pandangan atau pemahaman terhadap suatu konsep.

3.        Pemahaman Konsep
Siswa diharapkan dalam proses pembelajaran dapat menjelaskan kriteria dibawah ini yaitu:
Mendefinisikan konsep yang bersangkutan
Menjelaskan perbedaan antara konsep yang bersangkutan dengan konsep-konsep yang lain.
Menjelaskan hubungan dengan konsep-konsep yang lainnya.
Menjelaskan arti konsep dalam kehidupan sehari-hari dan menerapkannya untuk memecahkan      masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan keempat kriteria diatas, dapat diketahui apakah seorang siswa sudah memahami konsep atau belum. Apabila sudah memahami konsep maka siswa harus memenuhi kriteria tersebut. Pada kenyataannya, tidak semua siswa mempunyai pemahaman yang sama tentang suatu konsep.

4.        Miskonsepsi
a.         Pengertian Miskonsepsi
Proses pembelajaran, tidak menutup kemungkinan terjadinya berbagai kesalahan. Kesalahan yang dibuat oleh siswa dalam belajar diantaranya adalah kesalahan dalam berhitung atau salah dalam penulisan rumus, kesalahan-kesalahan dalam mengingat atau menghafal. Kesalahan yang terjadi secara terus-menerus serta menunjukkan kesalahan konsep dikenal dengan salah konsep atau miskonsepsi. Miskonsepsi merupakan suatu konsep yang tidak sesuai dengan pengertian yang diterima para pakar dalam bidang tersebut. Bentuk miskonsepsi dapat berupa konsep awal, kesalahan, hubungan yang tidak benar antar konsep-konsep, gagasan intuitif atau pandangan yang naif.
Menurut Treagust miskonsepsi merupakan kesalahan siswa dalam pemahaman suatu konsep. Hal ini terjadi karena siswa tidak mampu menghubungkan fenomena yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari dengan pengetahuan yang diperoleh disekolah.Pemahaman konsep yang tidak sesuai dengan masyarakat ilmiah ini disebut juga dengan konsep alternatif (David F, 2006).
Brown dengan artikelnya menjelaskan miskonsepsi sebagai suatu pandangan yang naif dan mendefinisikannya sebagai suatu gagasan yang tidak sesuai dengan pengertian ilmiah yang sekarang diterima. Sedangkan Feldsine menemukan miskonsepsi sebagai suatu kesalahan dan hubungan yang tidak benar antara konsep-konsep. Flowler dalam suparno menjelaskan miskonsepsi sebagai pengertian yang tidak akurat akan konsep, penggunaan konsep yang salah, klasifikasi contoh-contoh yang salah, kekacauan konsepkonsep yang berbeda dan hubungan hirarkis konsep-konsep yang tidak benar (Paul Suparno, 2004. Hal:4).
Berdasarkan dari beberapa pendapat dan uraian tersebut maka dapat dikatakan miskonsepsi atau salah paham adalah konsepsi (persepsi) yang berbeda dengan konsepsi ilmiah.

b.        Penyebab Miskonsepsi
Pertanyaannya adalah bagaimana miskonsepsi terbentuk? Dalam proses pembelajaran, peserta didik akan mengolah informasi yang masuk ke dalam otak mereka. Jika informasi yang diterima sesuai dengan struktur konsep yang ada, informasi ini akan langsung menambah jaringan pengetahuan mereka, proses ini disebut proses asimilasi. Jika informasi tidak sesuai, mereka akan melakukan penyusunan ulang struktur kognitif mereka hingga informasi ini dapat menjadi bagian dari jaringan pengetahuan mereka (Paul Suparno; Sanger & Greenbowe, 1997).
Dalam proses menyampaikan informasi baru ke dalam struktur kognitif mereka, peserta didik sering kali mengalami kesulitan, bahkan kegagalan. Hal inilah yang kemudian menjadi timbulnya miskonsepsi pada kognitif peserta didik. Lebih jelas, miskonsepsi didefinisikan sebagai pengetahuan konseptual dan proporsional peserta didik yang tidak konsisten atau berbeda dengan kesepakatan ilmuwan yang telah diterima secara umum dan tidak dapat menjelaskan secara tepat fenomena ilmiah yang diamati. Perlu ditekankan bahwa miskonsepsi peserta didik dapat dengan tepat menjelaskan pengalaman dan pengamatan peserta didik yang sesuai dengan logika peserta didik dan konsisten dengan pemahaman mereka tentang dunia. Oleh karena itu, miskonsepsi sangat sukar untuk diubah (Sanger & Greenbowe, 1997).
Miskonsepsi yang terjadi dalam pembelajaran kimia berhubungan dengan kesulitan dalam memahami materi ilmu kimia. Terjadinya miskonsepsi dapat disebabkan oleh gagasan-gagasan yang tidak ilmiah yang muncul dalam pikiran-pikiran siswa. Penyebab sesungguhnya seringkali juga sulit diketahui, karena siswa kadang-kadang tidak secara terbuka mengungkapkan bagaimana hingga mereka memiliki konsep yang tidak tepat tersebut.
Filsafat konstruktivisme secara singkat menyatakan bahwa pengetahuan itu dibentuk (dikonstruksi) oleh siswa sendiri dalam kontak dengan lingkungan, tantangan dan bahan yang dipelajari. Oleh karena siswa sendiri yang mengonstruksikan pengetahuannya, maka tidak mustahil dapat terjadi kesalahan dalam mengonstruksi.
Proses konstruksi tersebut diperoleh melalui interaksi dengan benda, kejadian dan lingkungan. Pada saat siswa berinteraksi dengan lingkungan belajarnya, siswa mengonstruksi pengetahuan berdasarkan pengalamannya. Ketika proses konstruksi pengetahuan terjadi pada siswa maka sangat besar kemungkinan terjadi kesalahan karena secara alami siswa belum terbiasa mengkonstruksi pengetahuan sendiri secara tepat (Paul Suparno, 2004. Hal : 10).

2 komentar:

  1. menurut anda jika suatu sekolah menerapkan K-13 dimana pembelajara berpusat pada siswa dimana dari siswa, oleh siswa dan untuk siswa.dimana siswa belum megerti apa yang dipelajari kemungkinan terjadinya miskonsepsi pada proses pembelajaran sangat mungkin terjadi . bagaiamana peran seorang guru dalam mengatasi kondisi seperti ini?

    BalasHapus
  2. menurut saya disitulah peran guru yang sebenarnya diaman guru harus bisa memantau jalannya proses pembelajaran dengan baik, dimana kalaupun dilakukan diskusi kecil dalam kelompok tidak akan menimbulkan miskonsepsi

    BalasHapus