Selasa, 09 Mei 2017

Teknik-Teknik Membelajarkan Materi Kimia pada Fase Pendahuluan dan Fase Penutup



Hasil gambar untuk keterampilan membuka dan menutup pelajaran
Keterampilan membuka pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mempersiapkan mental dan menimbulkan perhatian siswa. Hal ini dimaksudkan agar siswa terpusat pada hal-hal yang akan dipelajari. Kegiatan membuka pelajaran semacam itu tidak saja harus dilakukan guru pada awal jam pelajaran tetapi juga pada awal setiap penggal kegiatan dari inti pelajaran yang diberikan selama jam pelajaran itu. Untuk menyiapkan mental siswa terhadap hal-hal yang akan dipelajari, guru dapat melakukan usaha-usaha dengan memberi acuan dan membuat kaitan antara materi pelajaran yang telah dikuasai siswa dengan bahan baru yang akan dipelajari. Siswa yang mentalnya siap untuk belajar adalah mereka yang telah mengetahui tujuan pelajaran, mengetahui masalah-masalah pokok yang harus diperhatikan, mengetahui langkah-langkah kegiatan belajar yang akan dilakukan, dan mengetahui batas-batas tugas yang harus dikerjakan untuk menguasai pelajaran tersebut. Untuk menimbulkan perhatian dan motivasi siswa terhadap hal-hal yang akan dipelajari, guru dapat melakukan usaha-usaha menimbulkan rasa ingin tahu, bersikap hangat dan antusias, memvariasikan cara mengajarnya, menggunakan alat-alat bantu mengajar, memvariasikan pola interaksi dalam kelas, dan sebagainya. Siswa yang perhatian motivasinya telah timbul nampak asyik dalam melakukan tugas, semangat dan kualitas responnya tinggi, ada pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan, dan cepat mereaksi terhadap saran-saran guru.
Kegiatan membuka pelajaran tidak mencakup urut-urutan kegiatan rutin seperti menertibkan siswa, mengisi daftar hadir, menyampaikan pengumuman, menyuruh menyiapkan alat-alat pelajaran dan buku-buku yang akan dipakai dan lain sebagainya yang tidak berhubungan dengan penyampaian materi pelajaran. Kegiatan membuka pelajaran ada kaitannya langsung dengan penyampaian materi pelajaran.
Kegiatan menutup pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru untuk me-ngakhiri kegiatan inti pelajaran. Usaha menutup pelajaran tersebut dimaksudkan untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari siswa, mengetahui tingkat pencapaian siswa dan tingkat keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar. Usaha-usaha yang dapat dilakukan guru antara lain adalah merangkum kembali atau menyuruh siswa membuat ringkasan dan mengadakan evaluasi tentang materi pelajaran yang baru diberikan. Seperti halnya kegiatan membuka pelajaran, kegiatan menutup pelajaran ini harus dilakukan guru tidak saja pada akhir jam pelajaran tetapi juga pada akhir setiap penggal kegiatan dari inti pelajaran yang diberikan selama jam pelajaran itu. Seperti halnya kegiatan membuka pelajaran, kegiatan menutup pelajaran juga tidak mencakup urut-urutan kegiatan rutin seperti memberi tugas dirumah, tetapi kegiatan yang ada kegiatan langsung dengan penyampaian materi pelajaran.
Komponen-komponen dalam membuka pelajaran
Sebagaimana diketahui kegiatan membuka pelajaran dapat dilakukan pada setiap awal kegiatan. Komponen keterampilan yang perlu dikuasai guru dalam membuka pelajaran adalah sebagai berikut:
a.      Menarik perhatian siswa
1.      Memvariasikan gaya mengajar guru
Menggunakan alat-alat bantu mengajar yang dapat menarik perhatian siswa
-         Pola interaksi yang bervariasi
(djamarah, syaiful Bahri.2005) pembelajaran adalah suatu proses komonikasi, komonikasi pembelajaran yang dikembangkan secara interaktif akan menarik perhatian siswa, karena suasana pembelajaran tidak menonton, varisai komonikasi pembelajaran, misalnya kapan saat yang tapat untuk klasikal, individu, kelompok.
-         Tempat belajar, misalnya selaen belajar didalam kelas, juga untuk menarik perhatian siswa, guru dapat merancang pembelajaran dilakukan diluar kelas, laboratorium, perpustakaan, atau tempat belajar lainnya yang memungkin pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efesien.
b.      Menumbuhkan motivasi belajar siswa, yang dapat dilakukan dengan:
-         Membangun suasana akrab sehingga siswa merasa dekat, misalnya menyapa dan berkomonikasi secara kekeluargaan.
-         Menimbulkan rasa ingin tahu, misalnya mengajak siswa untuk mempelajari suatu kasus yang sedang hangat dibicarakan.
c.      Memberi acuan atau rambu-rambu tentang pembelajaran yang akan dilakukan, yang dapat dilakukan dengan cara:
-         Mengemukakan tujuan yang akan dicapai serta tugas-tugas yang harus dilakukan dalam hubungannya dengan pencapaian tujuan.
-         Menjelaskan langkah-langkah atau tahapan pembelajaran ,sehingga siswa memahami apa yang harus dilakukan.
-         Menjelaskan target atau kemampuan yang harus dimiliki setelah pembelajran berlangsung
d.      Membuat kaitan
Untuk membuat kaitan dalam membuka pembelajran guru dapat melakukannya dengan menghubungkan antara materi yang akan disampaikan dengan materi yang telah dikuasai siswa siswi (pengetahuan siap) disamping itu perlu dikaitan dengan pengalaman,minat,dan kebutuhan siswa siswi.Cara yang dapat dilakukan guru menurut Mulyasa (2005:88) antara lain dapat berupa:
-         Mengajukan pertanyaan apersepsi
-         Mengulas sepintas garis besar isi pelajran yang  telah lalu
-         Mengaitkan materi yang diajarkan dengan lingkungan siswa siswi
-         Menghubungkan hubungkan bahan pelajran yang sejenis dan berurutan
Komponen-komponen menutup pelajaran
a.        Untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap inti pelajaran pada setiap akhir penggal kegiatan guru hendaknya melakukan peninjauan kembali tentang penguasaan siswa. Hal ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu merangkum dan membuat inti pelajaraan.
b.        Menilai (mengevaluasi)
-         Tanya jawab secara lisan yang dilakukan guru kepada siswa secara perorangan,kelompok atau klasikal
-         Mendemontrasikan ide baru pada situasi lain
-         Menyatakan pendapat tentang masalah yang dibahas. Dalam hal ini guru meminta siswa  memberikan pendapatnya tentang masalah yang baru saja dibahas, baik pendapat itu berupa pendapat perorangan maupun pendapat kelompok
-         Memberikan soal-soal tertulis yang dikerjakan oleh siswa secara tertulis pula
c.        Tindak lanjut
Altematif lain yang dapat dilakukann guru dalam mengakhiri pembelajaran adalah dengan cara memberikan tindak lanjut (Aqib, zainal.2003). yang dimaksud dengan tindak lanjut yaitu upaya menindak  lanjuti terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan, dengan maksud untuk lebih memantapkan pemahaman siswa baik berkenaan dengan konsep-konsep yang dipelajari maupun dalam rangka mengamlikasikan pemahaman konsep terhadap pemecahan-pemecahan masalah praktis. Jika kegiatan tindak lanjut bisa berupa pekerjaan rumah(pr), megerjakan tugas-tugas tertentu (proyek), melakukan opserfasi atau pengamatan, wawan cara sederhana atau kegiatan lain atau yang sejenis.
PERMASALAHAN
Pada  saat sesi membuka pembelajaran, ada saat dimana guru harus memberikan apersepsi yang mana didalamnya terdapat motivasi yang seolah-olah ikut terseret didalamnya. Dan pada saat apersepsi inilah guru juga merasa kerap kali kesulitan untuk melakukannya. Lalu menurut teman-teman bagaimanakah solusinya ketika seorang guru kesulitan membuat apersepsi?

Selasa, 02 Mei 2017

Kesulitan Guru dalam membelajarkan Kimia



Fungsi dan tujuan pembelajaran ilmu kimia (menurut kurikulum 2004) adalah:
 Hasil gambar untuk kesulitan belajar kimia
  1. Menyadari keteraturan dan keindahan alam untuk meng¬agungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Memupuk sikap ilmiah yang mencakup:
    a.    sikap jujur dan obyektif terhadap data;
    b.    sikap terbuka, yaitu bersedia menerima pendapat orang lain serta mau mengubah pandangannya, jika ada bukti bahwa pandangannya tidak benar;
    c.    ulet dan tidak cepat putus asa;
    d.    kritis terhadap pernyataan ilmiah, yaitu tidak mudah percaya tanpa ada dukungan hasil observasi empiris; dan dapat bekerjasama dengan orang lain.
  3. Memperoleh pengalaman dalam menerapkan metode ilmiah melalui percobaan atau eksperimen, dimana siswa melakukan pengujian hipotesis dengan merancang eksperimen melalui pemasangan instrumen, pengambilan, pengolahan dan interpretasi data, serta mengkomunikasikan hasil eksperimen secara lisan dan tertulis.
  4. Meningkatkan kesadaran tentang aplikasi sains yang dapat bermanfaat dan juga merugikan bagi individu, masyarakat, dan lingkungan serta menyadari pentingnya mengelola dan melestarikan lingkungan demi kesejahteraan masyarakat.
  5. Memahami konsep-konsep kimia dan saling keterkaitannya dan penerapannya untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari dan teknologi.
  6. Membentuk sikap yang positif terhadap kimia, yaitu merasa tertarik untuk mempelajari kimia lebih lanjut karena merasakan keindahan dalam keteraturan perilaku alam serta kemampuan kimia dalam menjelaskan berbagai peristiwa alam dan penerapannya dalam teknologi. 
Materi Pelajaran Kimia di SMA banyak berisi konsep-konsep yang cukup sulit untuk difahami siswa, karena menyangkut reaksi-reaksi kimia dan hitungan-hitungan serta menyangkut konsep-konsep yang bersifat abstrak dan dianggap oleh siswa merupakan materi yang relatif baru dan belum pernah diperolehnya ketika di SMP. Banyak sekolah yang ada juga menunjukkan bahwa penyampaian materi kimia SMA dengan metode demonstrasi dan diskusi nampaknya kurang optimal dalam meningkatkan aktivitas dan minat belajar siswa.
dapat dikatakan bahwa rendahnya aktivitas, minat, dan hasil belajar kimia siswa dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:
1.    Penyampaian materi kimia oleh guru dengan metode demonstrasi yang hanya sekali-kali dan diskusi cenderung membuat siswa jenuh, siswa hanya dijejali informasi yang kurang konkrit dan diskusi yang kurang menarik karena bersifat teoritis;
2.    Siswa tidak pernah diberi pengalaman langsung dalam mengamati suatu reaksi kimia, sehingga siswa menganggap materi pelajaran kimia adalah abstrak dan sulit difahami;
3.    Metode mengajar yang digunakan guru kurang bervariasi dan tidak inovatif, sehingga membosankan dan tidak menarik minat siswa. Hal ini menunjukkan kompetensi guru kimia yang masih perlu ditingkatkan.
Rendahnya aktivitas belajar siswa dalam mempelajari kimia diduga disebabkan kimia merupakan ilmu yang tidak bermanfaat dalam kehidupannya kelak, selain adanya anggapan bahwa kimia adalah ilmu yang sukar dipelajari.  Untuk meningkatkan minat dan motivasi belajar kimia siswa, guru perlu melakukan upaya peningkatan kualitas pembelajaran melalui kegiatan yang kreatif dan inovatif. Pembelajaran kimia yang berorientasi pada penumbuhan keterampilan generik sains (KGS) perlu dikembangkan, agar siswa dapat memahami bahwa kimia adalah ilmu yang terkait dalam kehidupan manusia sehari-hari, sehingga anggapan di atas dapat diminimalisir. Dengan demikian, Pembelajaran kimia yang diterapkan haruslah mempertimbangkan karakteristik siswa, karakteristik materi kimia, dan kondisi sekolah atau fasilitas yang dimiliki sekolah. Oleh sebab itu, perlu dilakukan identifikasi masalah-masalah pembelajaran kimia, baik dilihat dari motivasi belajar siswa dan kompetensi siswa maupun karakteristik konsep-konsep kimia yang akan dibelajarkan pada siswa.

Permasalahan:
seperti yang kita ketahui banyak sekali kendala yang dihadapi pada saat proses pembelajaran kimia, diantaranya bagaimana seorang guru menyampaiakan suatu materi yang sifatnya abstrak, kepada siswa sehingga siswa tidak mengalami kesulitan belajar dalam memahami konsep tersebut, selain itu, kesulitan belajar dapat juga dialami karena sugesti dari dalam diri siswa yang menganggap kimia tu sulit, menurut anda bagaimanakah mengubah anggapan tersebut? 




BIG ME AND BIG YOU (Quantum & Teaching Learning)




 Hasil gambar untuk berprestasi
Ketika mendengar kata quantum, tentu tidak asing lagi. Dimana kita ingat rumus yang diturunkan oleh Albert Einstein:
E = mc2

     E = mc2 dalam ilmu fisika adalah sebuah rumus yang sering dikenal dan sangat penting dalam menjelaskan persamaan nilai antara energi(E) dan massa (m), yang disetarakan secara langsung melalui konstanta kuadrat laju cahaya dalam vakum ( c 2 ), yang mana:
E = energi (J)
m = massa (kg)
c = kecepatan cahaya (m.s-1)

    Pada Quantum Teaching Learning ini, rumus energi dapat dihubungkan dengan proses pembelajaran di kelas:
E= Semangat/motivasi
m= segala sesuatu yang berhubungan dengan fisik (siswa)
c2 = interaksi siswa dengan sumber belajar dan lingkungan yang dikuadratkan

     Pada model pembelajaran Quantum Teaching Learning ini dapat merubah sesuatu yang tidak dipahami siswa menjadi paham. E juga dapat diartikan sebagai kebenaran sebagai keinginan untuk berubah.

PRINSIP QTL :
everything is speak
everything is on purpose
experience before label
acknowledge every effort
if it’s worth learning it’s worth celebrating

8 Kunci dari Excellent :
integritas
kegagalan adalah awal dari keberhasilan
berbicara dengan ramah, jujur, dan ramah
membuat sesuatu yang luar biasa
komitmen
ownership (bertanggung jawab atas apa yang dilakukan
flexybility
balance (seimbang)

Value Relatioship :
Nilai hubungan seseorang itu ada 4 kategori, yaitu :
small me, small you
small me, big you
big me, smal you
big me, big you

  Dalam kehidupan sehari-hari, dengan orang lain dalam lingkungan kerja maupun teman dan lain-lain, kita harus mengkategorikannya dalam BIG ME BIG YOU. Dengan seperti itu kita menganggap bahwa diri kita sama dengan orang lain dalam hal kemampuan atau pun sikap. Kita tidak boleh menganggap bahwa kita kecil atau besar dari orang lain. Tapi kita harus menganggap diri kita dan orang lain besar untuk dapat maju.

Contoh dari BIG ME, BIG YOU:

Misalnya dalam hal kemampuan berbicara dalam presentasi di depan kelas, ketika si A memang sudah terbiasa berbicara di depan orang banyak, dan ketika presentasi selalu bagus, kemudian ada si B yang masih kurang percaya diri untuk berbicara di depan orang banyak maka si B beranggapan Big Me Big You, jika dia bisa kenapa saya tidak. Begitu juga sebaliknya.

Selasa, 11 April 2017

Isu-Isu Dalam Model Belajar Mengajar Kuantum

Quantum Teaching adalah ilmu pengetahuan dan metodologi yang digunakan dalam rancangan, penyajian, dan fasilitas Supercamp yang diciptakan berdasarkan teori-teori pendidikan seperti Accelerated Learning (Luzanov), Multiple Intelligence (Gardner), Neuro-Linguistic Programming (Ginder dan Bandler),Experiental Learning (Hahn), Socratic InquiryCooperative Learning (Johnson and Johnson), dan Elemen of Effective Intruction (Hunter). 
Menjadikan sebagai kegiatan yang dibutuhkan peserta didik. Di samping itu untuk memotivasi, menginspirasi dan membimbing guru agar lebih efektif dan sukses dalam mengasup pembelajaran sehingga lebih menarik dan menyenangkan. Dengan demikian, diharapkan akan terjadi lompatan kemampuan peserta didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran yang dilakukan.
Karakteristik Quantum Teaching & Leraning
a.       Berpangkal pada psikologi kognitif
b.      Bersifat humanistik, manusia selaku pembelajar menjadi pusat perhatian.
c.       Bersifat konstruktivistis.
d.      Memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna.
e.       Menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi.
f.       Menekankan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran.
g.      Menekankan kebermaknaan dan dan kebermutuan proses pembelajaran.
h.      Memiliki model yang memadukan konteks dan isi pembelajaran.
i.        Menyeimbangkan keterampilan akademis, keterampilan hidup dan prestasi material.
Prinsip-Prinsip dalam Quantum Teaching Quantum Teaching juga memiliki lima atau kebenaran tetap. Serupa dengan asas utama, sebagaimana disebutkan di atas, prinsip-prinsip ini mempengaruhi seluruh aspek Quantum Teaching. Prinsip tersebut ada lima, yaitu: 1) segalanya berbicara; 2) segalanya bertujuan; 3) pengalaman sebelum pemberian nama; 4) akui setiap usaha; 5) jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan. 
permasalahan 
apasih sebenarnya kendala utama penerapan quantum teaching and learning?  
 

Bentuk Kearifan Lokal Etnokimia di Bumi Pusako Betuah Negeri jambi

          Jambi merupakan daerah yang ikut berpartisipasi menyebarluaskan pakaian tradisional batik Indonesia. Memiliki cirikhas serta motif batik yang berbeda tentunya, dikarenakan sejarah yang berbeda, iklim yang berbeda, budaya yang berbeda sehingga menghasilkan sebuah kreatifitas karya yang berbeda pula untuk batik jambi ini. Beberapa informasi menarik untuk Anda mengenai kesan unik dari batik Jambi yang bisa Anda dapatkan, guna menambah wawasan dan referensi dalam mencari batik diluar pulau Jawa. 
Batik Jambi Motif Bungo Keladi
Batik Jambi Motif Bungo Keladi


Sejarah batik Jambi

Sebelum kepada informasi corak dan cirikhas dari motif batik kota Jambi ini, perlu Anda ketahui pula asal muasal dari sejarah batik Jambi yang hingga kini berkembang. Cerita itu berasal dari jamannya Kesultanan Melayu di Jambi, untuk penempatan waktu dan tahunnya masih belum jelas dan pastinya, akan tetapi pada masa kesultanan tersebut batik khas Jambi sudah ada dengan motif utamanya adalah flora dan fauna. Akan tetapi, perbedaannya adalah pakaian batik ini hanya diperbolehkan untuk lingkungan keluarga sultan saja, belum menyebar hingga kepada masyarakat sekitarnya. Permasalahan pertama adalah dikarenakan pada jaman kesultanan dahulu masih sangat jarang orang yang mampu membuat kerajinan batik jambi tersebut. kemudian, penyebaran pengenalan batik jambi tersebut pada masa itu kurang diperhatikan yang menyebabkan terjadinya kesenjangan sosial antara masyarakat yang memiliki ekonomi rendah dan tinggi. Karena pada masa tersebut hanya orang-orang bangsawan dan ekonomi tinggilah yang mampu mendapatkan model baju batik Jambi. Kemudian, akhirnya pada masa orde baru sekitar tahun 1980-an, batik Jambi akhirnya dilakukan pengembangan dan pembinaan secara massal oleh pemerintahan Jambi.

Ada sedikit keunikan dari sejarah batik jambi ini di masa orde baru, ketika masa pengembangan batik secara massal, corak dan warna khas Jambi masih melekat sebelum tahun 1990-an. Akan tetapi, ketika melebihi tahun tersebut warna batik khas Pekalongan dan juga Cirebon. Pada akhirnya saat ini ciri khas batik Jambi kembali lagi kepada budaya sebelumnya.
secara kimiawi dalam proses pembatikan dibutuhkan bahan-bahan seperti :
Lilin atau malam 
Lilin ada yang dibuat dari bahan kimiawi (buatan pabrik), dan ada yang alami.
 
Zat pewarna
Zat pewarna ada yang terbuat dari bahan kimiawi dan ada yang terbuat dari bahan alami. Sekarang ini yang digunakan untuk membatik adalah pewarna yang berasal dari bahan kimiawi, yaitu naphtol dan garam.
 
 

Selasa, 04 April 2017

INOVASI DALAM PEMBELAJARAN KIMIA






Kebanggaan seorang guru adalah ketika siswa didiknya dapat mengerti apa yang disampaikan dan diajarkan oleh guru selama proses pembelajaran. Pencapaian indikator melalui berbagai evaluasi sebagai salah satu cara yang dilakukan guna mengetahui sampai sejauh mana materi yang telah diberikan dapat diterima oleh siswa. Paradigma tersebut berkembang mendominasi hampir di seluruh proses pembelajaran yang ada di berbagai instansi pendididkan saat ini.

Guru hanya berorientasi pada pemberian materi kepada siswa serta penguasaan siswa untuk dapat mengerti pelajaran tanpa ada proses atau makna yang berarti selama proses pembelajaran. Timbal baliknya guru hanya akan melihat dari satu aspek saja yaitu dengan melihat dan mengukur nilai ulangan siswa. Proses tersebut terus berlangsung dan diterapkan tanpa memperhatikan dampak yang terjadi pada siswa didik sebagai obyek pendididkan. Proses yang hanya beroriantasi pada pencapaian nilai ulangan tanpa memeperhatikan bagaimana proses pembelajaran berlangsung dan bermakna bagi siswa hanya akan menjadi beban dan cenderung membosankan untuk siswa didik tersebut.
Pembelajaran model konvensional yang masih sering diterapkan menjadikan proses pembelajaran hanya sebatas rekaman memoritas hafalan informasi dari guru kepada siswa tanpa ada konstrukivitas yang diserap oleh siswa akan makna yang terkandung dalam materi pepmbelajaran. Dampak lembih lanjutnya adalah menjadikan siswa tersebut tidak benar-benar belajar dan memahami tetapi hanya tau dan menghafal. Bahan yang disampaikan oleh guru tidak dapat diaplikasikan dan menjadikan siswa didik tidak dapat belajar menjadi lebih baik. Hakikat pendidikan akan hilang jika yang terjadi hanya transfer informasi tanpa ada proses memnididik siswa untuk mengerti, paham dan dapat belajar dari pengalaman untuk mengaktulisasi seluruh potensi diri secara bebas dan terarah.
Inovasi yang coba diterapkan untuk mendapatkan proses belajar menyenangkan dan bermakna adalah menggabungkan model pembelajaran berbasis cooperative learning dengan media pembelajaran modul yang bersifat inkuri terbimbing. Berbagai strategi pembelajaran sudah banyak berkembang saat ini guna menunjang proses pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan bagi siswa didik sehingga belajar bukan lagi menjadi beban dan membosankan. Salah satu inovasi yang dicoba dikembangkan adalah melalui inovasi dalam membuat media-media pembelajaran interaktif. Modul atau buku pegenggan adalah salah satu contoh media pembelajaran yang banyak digunakan di kelas-kelas untuk mempermudah guru menjelaskan materi secara konseptual dan terorganisir.
Buku pegangan atau modul dapat digunakan sebagai media yang mempermudah siswa dalam menyerap pelajaran yang disapaikan sekaligus sebagai media untuk merenkonstruksi semua hasil belajar secara tertulis. Model inkuiri yang dipilih dapat diterapkan dalam menyusun model modul yang sesuai, yaitu modul yang berbasis inkuiri. Modul berbasis inkuiri tersebut sangat menunjang proses pembelajaran cooperative learning sebab di dalam modul pembelajaran inkuiri tersebut menuntut keaktifan siswa dalam bekerja kelompok sekaligus mandiri.
Pengembangan dan bagaimana peranan modul berbasis inkuiri tersebut akan lebih dijelaskan dan diuraikan pada pembahasan dalam artikel ini. Dalam pembahasan tersebut akan diuraikan tentang pentingnya sebuah media pembelajaran dan peran dari modul atau buku pegangan berbasis inkuiri mempermudah proses pembelajaran kimia sesuai model pembelajaran PAIKEM.
Dalam menciptakan proses pembelajaran yang menyenangkan dan berkualitas guna mencapai tujuan pembelajaran dibutuhkan metode dan berbagai inovasi dalam membuat strategi pembelajaran yang tepat. Seperti yang telah dijabarkan dalam pendahuluan di atas salah satu inovasi yang terus berkembang adalah inovasi membuat berbagai media pembelajaran yang efektif dan efisien guna mempermudah proses pemnyampaian materi kepada siswa didik.
Media pembelajaran berupa modul atau buku pegangan saat ini banyak berkembang dan dijadikan sebagai salah satu bahan ajar yang digunakan untuk membantu siswa memahami pelajaran secara singkat, ringkas namun terkonsep. Berikut akan diuraikan mengebai inovasi media pembelajaran modul berbasis inkuiri dalam startegi pembelajaran cooperative learning
Peran media pembelajaran
Proses pembelajaran merupakan proses interaktif yang aktif antar semua komponen di dalam kelas. Komunikasi menjadi kunci dari berhasilnya proses belajar mengajar penyampaian materi dari guru untuk sampai secara utuh kepada siswa sebagai objek belajar. Sesuai perkembangan berbagai konsep teori belajar saat ini, komunikasi yang terjalin dalam proses pembelajaran haruslah berjalan timbale balik. Guru harus dapat memperoleh respon dari siswa terhadap apa yang disampaikan atau ditugaskan. Siswa bukan lagi objek pasif yang hanya menerima begitu saja segala informasi yang disampaikan guru di kelas. Agar terjalin komunikasi yang baik dan menunjang proses belajar mengajar diperlukan alat untuk mempermudah penyampaian materi sekaligus sebagai bentuk inovasi agar proses belajar tidak berjalan membosankan.
Media merupakan salah satu alat atau komponen komunikasi yang berfungsi menyampaikan pesan dari komunikator kepada komunikan (Criticos dalam Daryanto, 2010:4). Berdasarkan penjelasan tentang media, maka dalam menunjang terjalinya komunikasi yang baik diperlukan sebuah media yang tepat sehingga dapat mengakomodasi proses yang berjalan. Proses pembelajaran dapat diartikan sebagai proses komunikasi terstruktur dan terbimbing guna mencapai suatu tujuan pembelajaran tertentu. Komunikasi dalam pembelajaran tersebut tidak dipungkiri juga memerlukan media untuk memaksimalkan pencapaian tujuan pembelajaran.
Media pembelajaran memiliki peran penting dalam proses pembelajaran. proses komunikasi yang terjalin antar guru dan siswa akan menimbulkan encoding dan dekoning. Encoding merupakan proses penyampaian informasi melalui symbol-simbol komunikasi baik secara verbal maupun non verbal sedangkan decoding adalah penafsiran dan penagkapan maksud dari informasi yang disampaikan oleh komunikator (Daryanto, 2010:5).
Terkadang dalam proses pembelajaran, terjadi kegagalan dalam decoding oleh siswa dikarenakan berbagai hal, sehingga informasi atau pesan gagal diterima dengan baik oleh siswa. Untuk meminimalkan kegagalan decoding diperlukan media yang informative dan dapat mewakili secara konkrit pesan yang disampaikan. Media pembelajaran akhirnya menjadi alat pendukung yang sangat baik dalam proses pembelajaran agar tidak terjadi miss konsepsi sekaligus menjadikan proses belajar menjadi lebih menyenangkan.
Macam dan jenis dari media pembelajaran sendiri jumlahnya sangat banyak dan bervariasi serta. Pemilihan media yang tepat harus disesuaikan dengan materi dan keadaan kelas serta lingkungan belajar. Tidak semua media dapat digunakan di semua tempat untuk semua materi. Sebagai seorang pengajar dan pendidik, guru harus dapat memilih media pembelajaran apasajakah yang harus digunakan guna menunjang proses pembelajaran yang berkualitas.
Buku peganggan (modul) sebagai media pembelajaran inetraktive
Buku pegangan atau modul merupakan salah satu contoh media pembelajaran yang berbentuk media cetak. Modul juga sering disebut sebagai media pengajaran berprogram sebab satu modul dalam satu materi tertentu terdapat berbagai macam program pembelajaran yang meliputi pretest, materi, langkah diskusi, langkah percobaan sampai soal-soal ulangan. Bentuk modul atau buku pegangan hampir sama dengan buku cetak tetapi dikemas lebih ringkas dan ringan hanya memuat konsep-konsep penting materi pelajaran, tidak sedetail buku paket pelajaran.
Modul adalah satuan program pembelajaran yang terkecil, yang dapat dipelajari oleh siswa sendiri secara perseorangan (self instructional) setelah siswa didik menyelesaikan satu satuan dalam modul, selanjutnya siswa tersebut dapat melangkah maju dan mempelajari satuan modul berikutnya. Pembelajaran dengan menggunakan modul, merupakan strategi tertentu dalam menyelenggarakan pembelajaran individual. Modul pembelajaran, sebagaimana yang dikembangkan di Indonesia, merupakan suatu paket bahan pembelajaran (learning materials) yang memuat deskripsi tentang tujuan pembelajaran, lembaran petunjuk guru yang menjelaskan cara mengajar yang efisien, bahan bacaan bagi siswa didik, lembaran kunci jawaban pada lembar kertas kerja siswa, dan alat-alat evaluasi pembelajaran.
Modul atau buku pegangan sebagai media pembelajaran berbentuk cetak bertujuan untuk mempermudah siswa untuk mengerti materi pelajaran. Bentuk modul sebagai media cetak terlihat kurang dapat bersifat interaktif dan komunikatif jika dibandingkan dengan media pembelajaran seperti media berbasis ICT. Media modul atau buku pegangan juga cenderung dinilai terlalu ringkas sehingga pengetahuan siswa menjadi terbatas. Berbagai pandangan tersebut sebenarnya dapat diatasi jika guru yang membuat dan merancang sendiri modul pembelajaran dapat menguasai dengan baik bagaimana membuat modul pembelajaran yang tepat.

Permasalahan
seperti yang kita ketahui salah satu inovasi dalam pembelajaran kimia adalah media pembelajaran kimia yang dapat menunjang proses pembelajaran kimia. lalu menurut teman-teman, bagaimana cara mengoptimalkan penggunaan media pembelajaran kimia disekolah-sekolah?