Rabu, 22 Maret 2017
Selasa, 21 Maret 2017
Keterampilan Dasar (Basic Skill) dalam laboratorium
Dalam sebuah praktikum, praktikum
diwajibkan mengenal dan memahami cara kerja serta fungsi dari alat-alat
laboratorium. Alat-alat dilaboratorium dapat dibagi berdasarkan jenis bahan
pembuatnya atau berdasarkan fungsinya. Berdasarkan bahan pembuatnya, alat-alat
laboratorium dapat dibagi menjadi: 1). alat yang berfungsi untuk mengukur
volume, contohnya gelas ukur, pipet transfer, pipet ukur, buret, dan labu
volumetrik atau labu ukur 2). alat untuk mengukur berat, contohnya timbangan.
3). Alat yang berfungsi sebagai wadah, contohnya botol timbang, porselin dan
gelas arloji. 4).alat yang berfungsi sebagai tempat reaksi,contohnya tabung
reaksi, gelas piala, labu erlenmeyer, dan labu destillasi. 5). Alat-alat bantu,
contohnya botol semprot, corong pisah, penjepit, pinset, sudip, desikator,
statis, dan klep. (Subroto,2000:110).
Sebelum melakukan praktikum,
hendaknya memeriksa alat-alat yang akan digunakan. Untuk alat-alat dalam
penggunaannya memerlukan ketelitian dan kehati-hatian. Untuk memindahkan
zat-zat kimia yang berwujud cair kita sering menghadapi suatu kesulitan yang
mungkin disebabkan oleh tekanan biasa yang mempengaruhi dalam menentukan volume
cairan itu dengan tepat. Maka dari itu dapat digunakan pipet dan buret yang
gunanya untuk memindahkan volume cairan. (Arifin,1996:9)
Analisis tidak boleh digunakan
dengan alat kaca yang tidak bersih. Alat kaca yang tampaknya bersih belum tentu
bersih dari sudut pandang seorang analisis. Permukaan yang tampaknya tidak ada
kotoran sering masih tercemari oleh lapisan tipis, tidak tampak yang berminyak.
Bila air dituangkan dari dalam suatu wadah yang tercemar, air tidak terbuang
secara seragam dari permukaan kaca tetapi menyisakan tetesan yang kecil. Alat
kaca yang bisa dimasuki sikat seperti bukker dan erlenmeyer paling baik
dibersihkan dengan sabun atau detergen sintetik. Pipet, buret, atau labu
volumetri mungkin memerlukan larutan detergen panas untuk bisa benar-benar
bersih. Jika permukaan kaca itu masih membuang airnya secara seragam, mungkin
perlu digunakan larutan pembersih, yang sifat oksidasi kuatnya dapat memastikan
kebersihan permukaan kaca keseluruhan. Setelah dibersihkan, alat itu hendaknya
dibilas beberapa kali dengan air kran, sedikit air suling dan akhirnya
mengering sendiri. (Day dan Underwood,1999:577-578).
Dalam pengukuran harus diperhatikan
dua hal yaitu kesalahan pengukuran dengan alat ukur terutama jenis ukur,
misalnya mengukur massa zat dalam suatu gram sedangkan timbangan analisis
sampai miligram. Jika sejumlah zat ditimbang dengan kedua timbangan maka didalam
jumlah angka yang berbeda. Jumlah digit dari pengukuran yang menyangkut masalah
kecermatan dan ketelitian. (syukri,1999:4)
Salah satu teknik dasar laboratorium yang
sangat menunjang keberhasilan penelitian dan praktikum dilaboratorium adalah
kebersihan meja praktikum serta penataan alat dan zat-zat kimia harus tertata
dengan baik. Dengan kerapihan dan penataan meja praktikum beserta alat dan
zat-zat kimia akan mengecilkan kemungkinan mencampur adukan sample, salah
menambahkan zat kimia, menumpahkan larutan dan memecahkan alat gelas.
(walton,1998)
Teknik-teknik dasar yang harus
diketahui dan dikuasai diantaranya adalah: mencuci alat-alat gelas, teknik
dasar mengukur zat cair atau volume, teknik dasar mengukur massa zat, dan
teknik dasar menyimpan. (Brady,1994).
Teknik labarotorium merupakan kiat-kiat mengenai seluk beluk laboratorium.
Sebelum melakukan praktikum di dalam laboratorium diperlukan pengenalan
mengenai beberapa pengetahuan pokok dan teknik-teknik laboratorium ini
untuk mencegah timbulnya bahaya yang ditimbulkan oleh alat dan bahan dalam
laboratorium maupun kesalahan dalam penggunaan peralatan (Tim Kimia Dasar,
2012: 1).
Peralatan dalam laboratorium antara lain:
1.
Gelas Kimia
(beaker)
Berupa gelas tinggi, berdiameter
besar dengan skala sepanjang dindingnya. Terbuat dari kaca borosilikat yang
tahan terhadap panas hingga suhu 200 . Ukuran alat ini ada yang 50 mL, 100 mL
dan 2 L.
Fungsinya :
a.
untuk
mengukur volume larutan yang tidak memerlukan tingkat ketelitianYang
tinggi
b.
menampung
zat kimia
c.
memanaskan
cairan
d.
media
pemanasan cairan
2.
Pipet
Merupakan alat untuk mengambil
cairan dalam jumlah tertentu maupun takaran bebas. Jenisnya :
a.
Pipet
seukuran : digunakan untuk mengambil cairan dalam jumlah tertentu secara tepat,
bagian tengahnya menggelembung.
b.
Pipet
berukuran : berupa pipa kurus dengan skala di sepanjang dindingnya. Berguna
untuk mengukur dan memindahkan larutan dengan volume tertentu secara tepat.
c.
Pipet tetes
: berupa pipa kecil terbuat dari plastik atau kaca dengan ujung bawahnya
meruncing serta ujung atasnya ditutupi karet. Berguna untuk mengambil cairan
dalam skala tetesan kecil.
3.
Buret :
berupa tabung kaca bergaris dan memiliki kran di ujungnya. Ukurannya mulai dari
5 dan 10 mL (mikroburet) dengan skala 0,01 mL, dan 25 dan 50 mL dengan skala
0,05 mL.
Fungsinya untuk mengeluarkan larutan
dengan volume tertentu, biasanya digunakan untuk titrasi.
4.
Tabung
reaksi : berupa tabung yang kadang dilengkapi dengan tutup. Terbuat dari kaca
borosilikat tahan panas, terdiri dari berbagai ukuran.
Fungsi :
a.
sebagai
tempat untuk mereaksikan bahan kimia
b.
untuk
melakukan reaksi kimia dalam skala kecil
5.
Kaca arloji
: terbuat dari kaca bening, terdiri dari berbagai ukuran diameter.
Fungsi :
a.
sebagai
penutup gelas kimia saat memanaskan sampel
b.
tempat saat
menimbang bahan kimia
c.
tempat untuk
mengeringkan padatan dalam desikator (berupa panci bersusun dua yang bagian
bawahnya diisi bahan pengering, dengan penutup yang sulit dilepas dalam keadaan
dingin karena dilapisi vaseline).
6.
Spatula :
berupa sendok panjang dengan ujung atasnya datar, terbuat dari stainless steel
atau alumunium.
Fungsi
:
a.
untuk
mengambil bahan kimia yang berbentuk padatan
b.
dipakai
untuk mengaduk larutan
7.
Neraca
analisis : digunakan untuk menimbang padatan kimia.
Beberapa teknik dasar dalam
laboratorium :
1.
Cara
memanaskan cairan
Harus memperhatikan kemungkinan
terjadinya bumping (meloncatnya cairan akibat peningkatan suhu drastis). Cara
mencegahnya dengan menambahkan batu didih ke dalam gelas kimia.
a.
Pemanasan
cairan dalam tabung reaksi
b.
Pemanasan
cairan dalam gelas kimia dan labu Erlenmeyer
Bagian bawah dapat kontak langsung
dengan api sambil cairannya digoyangkan perlahan, sesekali diangkat bila
mendidih.
2. Cara membaca volume pada
gelas ukur
Masukkan cairan yang akan diukur
lalu tepatkan dengan pipet tetes sampai skala yang diinginkan. Bagian
terpenting dalam membaca skala di gelas ukur tersebut adalah garis singgung
skala harus sesuai dengan meniskus cairan. Meniskus adalah garis lengkung
permukaan cairan yang disebabkan adanya gaya kohesi atau adhesi zat cair dengan
gelas ukur.
3. Cara menggunakan buret
Sebelum digunakan, buret harus
dibilas dengan larutan yang akan digunakan. Cara mengisinya :
4.
Cara
menggunakan neraca analitis
Yang perlu diingat jangan pernah
menghirup gas atau uap senyawa secara langsung! Gunakan tangan dengan
mengibaskan bau sedikit sampel gas ke hidung (Ruhiyat,
2010).
Permasalahan : bagaimana menurut teman-teman cara untuk membekali skill lab yang baik kepada siswa?
Sabtu, 18 Maret 2017
Keterlaksanaan Praktikum dalam Pembelajaran Kimia di SMP dan SMA
Salah satu bentuk dari keterampilan proses adalah
kegiatan praktikum di laboratorium. Menurut Tresna Sastrawijaya (1998), kerja
praktik di laboratorium mempunyai peran ganda, yaitu pengalaman kerja kimia
nyata dan merangsang siswa agar berlatih berpikir dengan cara-cara kritis dan
ilmiah. Tujuan kegiatan praktikum di laboratorium, antara lain :
a. Merencanakan dan melaksanakan kerja laboratorium
dengan menggunakan fasilitas laboratorium secara efektif.
b. Mengembangkan keterampilan pengamatan, manipulasi,
instrumentasi, dan preparatif.
c. Memperoleh pengetahuan kimia.
d. Merangsang pikiran dengan menafsirkan eksperimen.
e. Mengenal ketelitian dan keterbatasan kerja
laboratorium.
f. Merekam secara cermat dan mengkomunikasikan hasil
secara jelas.
g. Mengembangkan tanggung jawab perorangan dan
reliabilitas dalam pelaksanaan eksperimen.
Laboratorium ialah suatu tempat dilakukannya percobaan
dan penelitian. Tempat ini dapat merupakan suatu ruangan tertutup, kamar atau
ruangan terbuka, kebun misalnya. Dalam pengertian terbatas laboratorium ialah
suatu ruangan yang tertutup dimana percobaan dan penelitian dilakukan.
Laboratorium merupakan suatu tempat berupa bangunan
yang dilengkapi sejumlah peralatan sebagai:
a. tempat kegiatan belajar siswa
b. tempat yang dilengkapi peralatan untuk melangsungkan
eksperimen di dalam sains atau melakukan pengujian dan analisis
c. tempat berlangsungnya penelitian ilmiah ataupun
praktik pembelajaran bidang sains
d. tempat memproduksi bahan kimia atau obat
e. tempat kerja untuk melangsungkan penelitian ilmiah
Laboratorium KIMIA berfungsi sebagai tempat
berlangsungnya kegiatan pembelajaran KIMIA secara praktek yang memerlukan
peralatan khusus yang tidak mudah dihadirkan di ruang kelas.
Di Indonesia belajar kimia tanpa praktikum kadang (atau sudah lazim)
dilakukan . Lho bagaimana bisa? Kok kelihatannya hebat bener?! Padahal kata
Chemistry jika dipenggal menjadi Chem-Is-Try, kimia tidak bisa dikatakan kimia
jika tanpa eksperimen (Try). Bahkan ilmu kimia juga lahir dari eksperimen
kemudian muncul-lah teori-teori kimia.
Di pelosok bahkan di perkotaan juga
bisa terjadi bahwa belajar kimia tanpa eksperimen. Alasannya klasik, karena:
1. tidak tersedianya laboratorium,
2. tidak tersedianya alat-alat
praktikum,
3. tidak tersedianya bahan kimia yang
diperlukan,
4. tidak adanya guru kimia,
5. guru kimia yang ada tidak mau
membimbing praktikum.
permasalahan :
Menurut teman-teman bagaimana cara mengatasi kendala praktikum berupa ketidak memadainya laboratorium sekolah?
Sistem Penilaian autentik Tentang Kemajuan Belajar Kimia Siswa di SMAN 1 Muaro Jambi
Penilaian otentik atau authentic
assessment jarang digunakan dalam penilaian sebagai penilaian alternatif.
Penilaian otentik lebih sering dinyatakan sebagai penilaian berbasis kinerja
(performance based assessment). Sementara itu dalam buku-buku lain (kecuali
Wiggins) penilaian otentik disamakan saja dengan nama penilaian alternatif
(alternative assessment) atau penilaian kinerja (performance assessment).
Selain itu Mueller (2006) memperkenalkan istilah lain sebagai padanan nama
penilaian otentik, yaitu penilaian langsung (direct assessment).
Penilaian otentik merupakan
penilaian langsung dan ukuran langsung (Mueller, 2006:1). Ketika melakukan
penilaian, banyak kegiatan yang akan lebih jelas apabila dinilai langsung,
umpamanya kemampuan berargumentasi atau berdebat, keterampilan menggunakan komputer
dan keterampilan melaksanakan percobaan. Begitu pula menilai sikap atau
perilaku siswa terhadap sesuatu atau pada saat melakukan sesuatu.
1. Tipe Tugas Otentik
Tugas-tugas penilaian kinerja
dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk.
a) Computer adaptive testing(tidak berbentuk
tes obyektif), yang menuntut peserta tes dapat mengekspresikan diri untuk dapat
menunjukkan tingkat kemampuan yang nyata;
b) Tes pilihan ganda diperluas, dengam
memberikan alasan terhadap jawaban yang dipilih;
c) Extended response atauopen ended
questionjuga dapat digunakan;
d) Group performance assessment(tugas-tugas
kelompok) atau individual performance assessment(tugas perorangan);
e) Interviuberupa pertanyaan lisan dari
asesor;
f) Observasi partisipatif;
g) Portofoliosebagai kumpulan hasil karya
siswa;
h) Projek, expo ataudemonstrasi;
i) Constructed response, yang siswa perlu
mengkonstruk sendiri jawabannya.
2. Rubric
Kriteria penilaian (Rubrics)
merupakan alat pemberi skor yang berisi daftar criteria untuk sebuah pekerjaan
atau tugas (Andrade dalam Zainul, 2001:19),Secara singkat scoring rubrics
terdiri dari beberapa komponen, yaitu : 1) dimensi; 2) definisi dan contoh; 3)
skala; dan 4) standar. Dimensi akan dijadikan dasar menilai kinerja siswa.
Definisi dan contoh merupakan penjelasan mengenai setiap dimensi, skala
ditetapkan karena akan digunakan untuk menilai dimensi, sedangkan standar
ditentukan untuk setiap kategori kinerja.
Pertanyaan-pertanyaan berikut dapat
digunakan sebagai patokan untuk menilai suatu rubrik, yaitu:
a) Seberapa jauh rubrik tersebut (jelas)
berhubungan langsung dengan criteria yang dinilai?
b) Seberapa jauh rubrik tersebut mencakup
keseluruhan standar dimensi kinerja yang dinilai?
c) Apakah kriteria yang dipilih sudah
menggunakan standar yang secara umum berlaku dalam bidang kinerja yang dinilai?
d) Sejauhmana dimensi dan skala yang
digunakan terdefinisi dengan baik?
e) Jika menggunakan skala numerik sejauh
mana angka-angka yang digunakan itu memang secara adil menggambarkan perbedaan
dari setiap kategori kinerja?
f) Seberapa jauh selisih skor yang
dihasilkan oleh rater yang berbeda?
g) Apakah rubric yang digunakan dipahami
oleh siswa?
h) Apakah rubrik cukup adil dan bebas dari
bias?
i) Apakah penilaian rubric mudah
digunakan, cukup praktis dan mudah diadministrasikannya?(Zainul, 2001: 29-30).
Berikut adalah ciri-ciri
penilaian autentik:
a. Mengukur semua aspek pembelajaran, yakni
kinerja dan hasil atau produk.
b. Dilaksanakan selama dan sesudah proses
pembelajaran berlangsung.
c. Menggunakan berbagai cara dan sumber.
d. Tes hanya salah satu alat pengumpulan
data penilaian.
e. Tugas-tugas yang diberikan mencerminkan
bagian-bagian kehidupan nyata setiap hari.
f. Penilaian harus menekankan kedalaman
pengetahuan dan keahlian, bukan keluasannya (kuantitas).
Jenis-Jenis Penilaian Autentik:
1. Penilaian Kinerja
Dalam implimentasi kurikulum 2013, amat
di anjurkan agar guru lebih mengutamakan penilaian unjuk kerja. Peserta didik
diamati dan dinilai bagaimana mereka dapat bergaul; bagaimana mereka
bersosialisasi di masyarakat dan bagaimana mereka menerapkan pembelajaran di
kelas dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam hubungan nya dengan
penilaian unjuk kerja, leighbody ( dalam mulyasa 2012) mengemukakan elemen
kerja yang dapat di ukur : (1) kualitas penyelesaian, (2) keterampilan
mengunakan alat-alat, (3) kemampuan menganalisis dan merencanakan terus bekerja
sampai selesai, (4) kemampuan menggambil keputusan berdasarkan amplikasi
informasi yang diberikan, dan (5) kemampuan membaca, mengunakan diagram,
gambar-gambar, dan simbol-simbol.
2. Penilaian Proyek
Penilaian proyek (project
assessment) merupakan kegiatan penilaian terhadap tugas yang harus diselesaikan
oleh peserta didik menurut periode/waktu tertentu. Penyelesaian tugas dimaksud
berupa investigasi yang dilakukan oleh peserta didik, mulai dari perencanaan,
pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan, analisis, dan penyajian data.
Dengan demikian, penilaian proyek bersentuhan dengan aspek pemahaman,
mengaplikasikan, penyelidikan.
3. Penilaian Portofolio
Portofolio adalah kumpulan-kumpulan
tugas yang dikerjakan peserta didik. Dengan demikian, dapat dikemukakan bahwa
penilaian portofolio adalah penilaian terhadap seluruh tugas yang dikerjakan
peserta didik dalam mata pelajaran tertentu. Penilaian portofilio dapat
dilakukan bersma-sam oleh guru dan peserta didik, melalui suatu diskusi untuk
membahas hasil kerja peserta didik, kemudian menentukan hasil penilaian atau
skor.
4. Penilaian Tertulis
Penilaian tertulis atas hasil
pembelajaran tetap lazim dilakukan. Tes tertulis berbentuk uraian atau esai
menuntut peserta didik mampu mengingat, memahami, mengorganisasikan,
menerapkan, menganalisis, mensintesis, mengevaluasi, dan sebagainya atas materi
yang sudah dipelajari. Tes tertulis berbentuk uraian sebisa mungkin bersifat komprehentif,
sehingga mampu menggambarkan ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta
didik. Tes tertulis berbentuk esai menuntut dua jenis pola jawaban,
1) jawaban terbuka (extended-response)
2) jawaban terbatas (restricted-response).
5. Penilaian Sikap
Kunandar (2013:105) membagi lima
jenjang proses berpikir ranah sikap, yaitu menerima atau memerhatikan, merespon
atau menanggapi, menilai atau menghargai, mengorganisasi atau mengelola, dan
berkarakter. Objek sikap yang perlu dinilai dalam proses pembelajaran adalah:
1) Sikap terhadap mata pelajaran.
2) Sikap terhadap guru/ pengajar.
3) Sikap terhadap proses pembelajaran.
6. Penilaian Diri
Penggunaan teknik ini dapat
memberi dampak positif terhadap perkembangan kepribadian seseorang.
Keuntungan penggunaan penilaian
diri di kelas antara lain:
1) dapat menumbuhkan rasa percaya diri
peserta didik, karena mereka diberi kepercayaan untuk menilai dirinya sendiri;
2) peserta didik menyadari kekuatan darri
kelemahan dirinya, karena ketika mereka melakukan penilaian, harus melakukan
introspeksi terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya;
3) dapat mendorong, membiasakan, dan melatih
peserta didik untuk berbuat jujur, karena mereka dituntut untuk jujur dan objektif
dalam melakukan penilaian.
7. Penilaian Produk
Penilaian produk biasanya
menggunakan cara holistik atau analitik.Cara holistik, yaitu berdasarkan kesan
keseluruhan dari produk. Cara analitik, yaitu berdasarkan aspek-aspek produk,
biasanya dilakukan terhadap semua kriteria yang terdapat pada semua tahap
proses pengembangan Kunandar (2013 : 299).
Selasa, 14 Maret 2017
Sistim Penilaian Otentik Tentang Kemajuan Belajar Kimia Siswa di SMP Dan SMA
A. Definsi dan Makna Asesmen Autentik
Asesmen
autentik adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar
peserta didik untuk ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Istilah asesmen
merupakan sinonim dari penilaian, pengukuran, pengujian, atau evaluasi. Istilah
autentik merupakan sinonim dari asli, nyata, valid, atau reliabel. Dalam
kehidupan akademik keseharian, frasa asesmen autentik dan penilaian autentik
sering dipertukarkan. Akan tetapi, frasa pengukuran atau pengujian autentik,
tidak lazim digunakan.
Secara
konseptual asesmen autentik lebih bermakna secara signifikan dibandingkan
dengan tes pilihan ganda terstandar sekali pun. Ketika menerapkan asesmen
autentik untuk mengetahui hasil dan prestasi belajar peserta didik, guru
menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan, aktivitas
mengamati dan mencoba, dan nilai prestasi luar sekolah.
Untuk
mendapatkan pemahaman cukup komprehentif mengenai arti asesmen autentik,
berikut ini dikemukakan beberapa definisi. Dalam American Librabry
Association asesmen autentik didefinisikan sebagai proses
evaluasi untuk mengukur kinerja, prestasi, motivasi, dan sikap-sikap
peserta didik pada aktifitas yang relevan dalam pembelajaran.
Dalam Newton
Public School, asesmen autentik diartikan sebagai penilaian atas produk dan
kinerja yang berhubungan dengan pengalaman kehidupan nyata peserta didik.
Wiggins mendefinisikan asesmen autentik sebagai upaya pemberian tugas
kepada peserta didik yang mencerminkan prioritas dan tantangan yang ditemukan
dalam aktifitas-aktifitas pembelajaran, seperti meneliti, menulis,
merevisi dan membahas artikel, memberikan analisa oral terhadap peristiwa,
berkolaborasi dengan antarsesama melalui debat, dan sebagainya.
B. Asesmen Autentik dan Tuntutan Kurikulum 2013
Asesmen
autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran
sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013. Karena, asesmen semacam ini mampu
menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik, baik dalam rangka
mengobservasi, menalar, mencoba, membangun jejaring, dan lain-lain. Asesmen
autentik cenderung fokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual,
memungkinkan peserta didik untuk menunjukkan kompetensi mereka dalam pengaturan
yang lebih autentik. Karenanya, asesmen autentik sangat relevan dengan
pendekatan tematik terpadu dalam pembejajaran, khususnya jenjang sekolah dasar
atau untuk mata pelajaran yang sesuai.
Kata lain
dari asesmen autentik adalah penilaian kinerja, portofolio, dan penilaian
proyek. Asesmen autentik adakalanya disebut penilaian responsif,
suatu metode yang sangat populer untuk menilai proses dan hasil belajar peserta
didik yang miliki ciri-ciri khusus, mulai dari mereka yang mengalami kelainan
tertentu, memiliki bakat dan minat khusus, hingga yang jenius. Asesmen autentik
dapat juga diterapkan dalam bidang ilmu tertentu seperti seni atau ilmu
pengetahuan pada umumnya, dengan orientasi utamanya pada proses atau hasil
pembelajaran.
Asesmen
autentik sering dikontradiksikan dengan penilaian yang menggunkan standar tes
berbasis norma, pilihan ganda, benar–salah, menjodohkan, atau membuat
jawaban singkat. Tentu saja, pola penilaian seperti ini tidak diantikan dalam
proses pembelajaran, karena memang lzim digunakan dan memperoleh legitimasi
secara akademik. Asesmen autentik dapat dibuat oleh guru sendiri, guru secara
tim, atau guru bekerja sama dengan peserta didik. Dalam asesmen autentik,
seringkali pelibatan siswa sangat penting. Asumsinya, peserta didik dapat melakukan
aktivitas belajar lebih baik ketika mereka tahu bagaimana akan dinilai.
Peserta didik
diminta untuk merefleksikan dan mengevaluasi kinerja mereka sendiri dalam
rangka meningkatkan pemahaman yang lebih dalam tentang tujuan pembelajaran
serta mendorong kemampuan belajar yang lebih tinggi. Pada asesmen autentik guru
menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan, kajian
keilmuan, dan pengalaman yang diperoleh dari luar sekolah.
Asesmen
autentik mencoba menggabungkan kegiatan guru mengajar, kegiatan siswa belajar,
motivasi dan keterlibatan peserta didik, serta keterampilan belajar. Karena
penilaian itu merupakan bagian dari proses pembelajaran, guru dan peserta didik
berbagi pemahaman tentang kriteria kinerja. Dalam beberapa kasus, peserta didik
bahkan berkontribusi untuk mendefinisikan harapan atas tugas-tugas yang harus
mereka lakukan.
Asesmen
autentik sering digambarkan sebagai penilaian atas perkembangan peserta didik,
karena berfokus pada kemampuan mereka berkembang untuk belajar bagaimana
belajar tentang subjek. Asesmen autentik harus mampu menggambarkan sikap,
keterampilan, dan pengetahuan apa yang sudah atau belum dimiliki oleh peserta
didik, bagaimana mereka menerapkan pengetahuannya, dalam hal apa mereka sudah
atau belum mampu menerapkan perolehan belajar, dan sebagainya. Atas dasar itu,
guru dapat mengidentifikasi materi apa yang sudah layak dilanjutkan dan untuk
materi apa pula kegiatan remidial harus dilakukan.
C. Asesmen Autentik dan Belajar Autentik
Asesmen
Autentik menicayakan proses belajar yang Autentik pula. Menurut Ormiston
belajar autentik mencerminkan tugas dan pemecahan masalah yang dilakukan oleh
peserta didik dikaitkan dengan realitas di luar sekolah atau kehidupan pada
umumnya. Asesmen semacam ini cenderung berfokus pada tugas-tugas kompleks atau
kontekstual bagi peserta didik, yang memungkinkan mereka secara nyata
menunjukkan kompetensi atau keterampilan yang dimilikinya. Contoh asesmen
autentik antara lain keterampilan kerja, kemampuan mengaplikasikan atau
menunjukkan perolehan pengetahuan tertentu, simulasi dan bermain peran,
portofolio, memilih kegiatan yang strategis, serta memamerkan dan menampilkan
sesuatu.
Asesmen
autentik mengharuskan pembelajaran yang autentik pula. Menurut Ormiston belajar
autentik mencerminkan tugas dan pemecahan masalah yang diperlukan dalam
kenyataannya di luar sekolah. Asesmen Autentik terdiri dari berbagai teknik
penilaian. Pertama, pengukuran langsung keterampilan peserta didik yang
berhubungan dengan hasil jangka panjang pendidikan seperti kesuksesan di tempat
kerja. Kedua, penilaian atas tugas-tugas yang memerlukan keterlibatan
yang luas dan kinerja yang kompleks. Ketiga, analisis proses yang
digunakan untuk menghasilkan respon peserta didik atas perolehan sikap,
keteampilan, dan pengetahuan yang ada.
Dengan
demikian, asesmen autentik akan bermakna bagi guru untuk menentukan cara-cara
terbaik agar semua siswa dapat mencapai hasil akhir, meski dengan satuan waktu
yang berbeda. Konstruksi sikap, keterampilan, dan pengetahuan dicapai melalui penyelesaian
tugas di mana peserta didik telah memainkan peran aktif dan kreatif.
Keterlibatan peserta didik dalam melaksanakan tugas sangat bermakna bagi
perkembangan pribadi mereka.
Dalam
pembelajaran autentik, peserta didik diminta mengumpulkan informasi dengan
pendekatan saintifik, memahahi aneka fenomena atau gejala dan hubungannya satu
sama lain secara mendalam, serta mengaitkan apa yang dipelajari dengan dunia
nyata yang luar sekolah. Di sini, guru dan peserta didik memiliki
tanggung jawab atas apa yang terjadi. Peserta didik pun tahu apa yang mereka
ingin pelajari, memiliki parameter waktu yang fleksibel, dan bertanggungjawab
untuk tetap pada tugas. Asesmen autentik pun mendorong peserta didik
mengkonstruksi, mengorganisasikan, menganalisis, mensintesis, menafsirkan,
menjelaskan, dan mengevaluasi informasi untuk kemudian mengubahnya menjadi
pengetahuan baru.
Sejalan
dengan deskripsi di atas, pada pembelajaran autentik, guru harus menjadi “guru
autentik.” Peran guru bukan hanya pada proses pembelajaran, melainkan juga pada
penilaian. Untuk bisa melaksanakan pembelajaran autentik, guru harus memenuhi
kriteria tertentu seperti disajikan berikut ini.
1.
Mengetahui
bagaimana menilai kekuatan dan kelemahan peserta didik serta desain
pembelajaran.
2.
Mengetahui
bagaimana cara membimbing peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan mereka
sebelumnya dengan cara mengajukan pertanyaan dan menyediakan sumberdaya memadai
bagi peserta didik untuk melakukan akuisisi pengetahuan.
3.
Menjadi
pengasuh proses pembelajaran, melihat informasi baru, dan mengasimilasikan
pemahaman peserta didik.
4. Menjadi kreatif tentang bagaimana proses belajar
peserta didik dapat diperluas dengan menimba pengalaman dari dunia di luar
tembok sekolah.
Asesmen
autentik adalah komponen penting dari reformasi pendidikan sejak tahun 1990an.
Wiggins (1993) menegaskan bahwa metode penilaian tradisional untuk mengukur
prestasi, seperti tes pilihan ganda, benar/salah, menjodohkan, dan lain-lain
telah gagal mengetahui kinerja peserta didik yang sesungguhnya. Tes semacam ini
telah gagal memperoleh gambaran yang utuh mengenai sikap, keterampilan,
dan pengetahuan peserta didik dikaitkan dengan kehidupan nyata mereka di luar
sekolah atau masyarakat.
Asesmen hasil
belajar yang tradisional bahkan cenderung mereduksi makna kurikulum, karena
tidak menyentuh esensi nyata dari proses dan hasil belajar peserta didik.
Ketika asesmen tradisional cenderung mereduksi makna kurikulum, tidak mampu
menggambarkan kompetensi dasar, dan rendah daya prediksinya terhadap derajat
sikap, keterampilan, dan kemampuan berpikir yang diartikulasikan dalam banyak
mata pelajaran atau disiplin ilmu; ketika itu pula asesmen autentik memperoleh
traksi yang cukup kuat. Memang, pendekatan apa pun yang dipakai dalam penilaian
tetap tidak luput dari kelemahan dan kelebihan. Namun demikian, sudah saatnya
guru profesional pada semua satuan pendidikan memandu gerakan memadukan potensi
peserta didik, sekolah, dan lingkungannya melalui asesmen proses dan hasil
belajar yang autentik.
Data asesmen
autentik digunakan untuk berbagai tujuan seperti menentukan kelayakan
akuntabilitas implementasi kurikulum dan pembelajaran di kelas tertentu.
Data asesmen autentik dapat dianalisis dengan metode kualitatif, kuanitatif,
maupun kuantitatif. Analisis kualitatif dari asesmen otentif berupa narasi atau
deskripsi atas capaian hasil belajar peserta didik, misalnya, mengenai
keunggulan dan kelemahan, motivasi, keberanian berpendapat, dan sebagainya.
Analisis kuantitatif dari data asesmen autentik menerapkan rubrik skor atau
daftar cek (checklist) untuk menilai tanggapan relatif peserta didik
relatif terhadap kriteria dalam kisaran terbatas dari empat atau lebih tingkat
kemahiran (misalnya: sangat mahir, mahir, sebagian mahir, dan tidak mahir).
Rubrik penilaian dapat berupa analitik atau holistik. Analisis holistik
memberikan skor keseluruhan kinerja peserta didik, seperti menilai kompetisi
Olimpiade Sains Nasional.
D. Jenis-jenis Asesmen Autentik
Dalam rangka
melaksanakan asesmen autentik yang baik, guru harus memahami secara jelas
tujuan yang ingin dicapai. Untuk itu, guru harus bertanya pada diri
sendiri, khususnya berkaitan dengan: (1) sikap, keterampilan, dan pengetahuan
apa yang akan dinilai; (2) fokus penilaian akan dilakukan, misalnya, berkaitan
dengan sikap, keterampilan, dan pengetahuan; dan (3) tingkat pengetahuan apa
yang akan dinilai, seperti penalaran, memori, atau proses. Beberapa jenis
asesmen autentik disajikan berikut ini.
1. Penilaian Kinerja
Asesmen autentik sebisa mungkin melibatkan parsisipasi
peserta didik, khususnya dalam proses dan aspek-aspek yangg akan dinilai. Guru
dapat melakukannya dengan meminta para peserta didik menyebutkan unsur-unsur
proyek/tugas yang akan mereka gunakan untuk menentukan kriteria
penyelesaiannya. Dengan menggunakan informasi ini, guru dapat memberikan umpan
balik terhadap kinerja peserta didik baik dalam bentuk laporan naratif mauun
laporan kelas. Ada beberapa cara berbeda untuk merekam hasil penilaian berbasis
kinerja:
a.
Daftar cek (checklist).
Digunakan untuk mengetahui muncul atau tidaknya unsur-unsur tertentu dari
indikator atau subindikator yang harus muncul dalam sebuah peristiwa atau
tindakan.
b.
Catatan
anekdot/narasi (anecdotal/narative records). Digunakan dengan cara guru
menulis laporan narasi tentang apa yang dilakukan oleh masing-masing peserta
didik selama melakukan tindakan. Dari laporan tersebut, guru dapat menentukan
seberapa baik peserta didik memenuhi standar yang ditetapkan.
c.
Skala penilaian
(rating scale). Biasanya digunakan dengan menggunakan skala numerik
berikut predikatnya. Misalnya: 5 = baik sekali, 4 = baik, 3 = cukup, 2 =
kurang, 1 = kurang sekali.
d.
Memori atau
ingatan (memory approach). Digunakan oleh guru dengan cara mengamati
peserta didik ketika melakukan sesuatu, dengan tanpa membuat catatan. Guru
menggunakan informasi dari memorinya untuk menentukan apakah peserta didik
sudah berhasil atau belum. Cara seperti tetap ada manfaatnya, namun tidak cukup
dianjurkan.
Penilaian kinerja memerlukan
pertimbangan-pertimbangan khusus. Pertama, langkah-langkah kinerja harus
dilakukan peserta didik untuk menunjukkan kinerja yang nyata untuk suatu atau
beberapa jenis kompetensi tertentu. Kedua, ketepatan dan kelengkapan
aspek kinerja yang dinilai. Ketiga, kemampuan-kemampuan khusus yang
diperlukan oleh peserta didik untuk menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran. Keempat,
fokus utama dari kinerja yang akan dinilai, khususnya indikator esensial yang
akan diamati. Kelima, urutan dari kemampuan atau keerampilan peserta
didik yang akan diamati.
Pengamatan atas kinerja peserta didik perlu dilakukan
dalam berbagai konteks untuk menetapkan tingkat pencapaian kemampuan
tertentu. Untuk menilai keterampilan berbahasa peserta didik, dari aspek
keterampilan berbicara, misalnya, guru dapat mengobservasinya pada
konteks yang, seperti berpidato, berdiskusi, bercerita, dan wawancara. Dari
sini akan diperoleh keutuhan mengenai keterampilan berbicara dimaksud. Untuk
mengamati kinerja peserta didik dapat menggunakan alat atau instrumen, seperti
penilaian sikap, observasi perilaku, pertanyaan langsung, atau pertanyaan
pribadi.
Penilaian-diri (self assessment) termasuk
dalam rumpun penilaian kinerja. Penilaian diri merupakan suatu teknik penilaian
di mana peserta didik diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan
status, proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya
dalam mata pelajaran tertentu. Teknik penilaian diri dapat digunakan untuk
mengukur kompetensi kognitif, afektif dan psikomotor.
- Penilaian ranah sikap. Misalnya, peserta didik diminta mengungkapkan curahan perasaannya terhadap suatu objek tertentu berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan.
- Penilaian ranah keterampilan. Misalnya, peserta didik diminta untuk menilai kecakapan atau keterampilan yang telah dikuasainya oleh dirinya berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan.
- Penilaian ranah pengetahuan. Misalnya, peserta didik diminta untuk menilai penguasaan pengetahuan dan keterampilan berpikir sebagai hasil belajar dari suatu mata pelajaran tertentu berdasarkan atas kriteria atau acuan yang telah disiapkan.
Teknik penilaian-diri bermanfaat memiliki beberapa
manfaat positif. Pertama, menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik. Kedua,
peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya. Ketiga,
mendorong, membiasakan, dan melatih peserta didik berperilaku jujur. Keempat,
menumbuhkan semangat untuk maju secara personal.
2.
Penilaian
Proyek
Penilaian proyek (project assessment) merupakan
kegiatan penilaian terhadap tugas yang harus diselesaikan oleh peserta didik
menurut periode/waktu tertentu. Penyelesaian tugas dimaksud berupa investigasi
yang dilakukan oleh peserta didik, mulai dari perencanaan, pengumpulan data,
pengorganisasian, pengolahan, analisis, dan penyajian data. Dengan demikian,
penilaian proyek bersentuhan dengan aspek pemahaman, mengaplikasikan,
penyelidikan, dan lain-lain.
Selama mengerjakan sebuah proyek pembelajaran, peserta
didik memperoleh kesempatan untuk mengaplikasikan sikap, keterampilan, dan
pengetahuannya. Karena itu, pada setiap penilaian proyek, setidaknya ada tiga
hal yang memerlukan perhatian khusus dari guru.
a.
Keterampilan
peserta didik dalam memilih topik, mencari dan mengumpulkan data, mengolah dan
menganalisis, memberi makna atas informasi yang diperoleh, dan menulis laporan.
b.
Kesesuaian
atau relevansi materi pembelajaran dengan pengembangan sikap, keterampilan, dan
pengetahuan yang dibutuhkan oleh peserta didik.
c.
Orijinalitas
atas keaslian sebuah proyek pembelajaran yang dikerjakan atau dihasilkan oleh
peserta didik.
Penilaian proyek berfokus pada perencanaan,
pengerjaan, dan produk proyek. Dalam kaitan ini serial kegiatan yang harus
dilakukan oleh guru meliputi penyusunan rancangan dan instrumen penilaian,
pengumpulan data, analisis data, dan penyiapkan laporan. Penilaian proyek dapat
menggunakan instrumen daftar cek, skala penilaian, atau narasi. Laporan
penilaian dapat dituangkan dalam bentuk poster atau tertulis.
Produk akhir dari sebuah proyek sangat mungkin
memerlukan penilaian khusus. Penilaian produk dari sebuah proyek dimaksudkan
untuk menilai kualitas dan bentuk hasil akhir secara holistik dan
analitik. Penilaian produk dimaksud meliputi penilaian atas
kemampuan peserta didik menghasilkan produk, seperti makanan, pakaian, hasil
karya seni (gambar, lukisan, patung, dan lain-lain), barang-barang terbuat dari
kayu, kertas, kulit, keramik, karet, plastik, dan karya logam. Penilaian secara
analitik merujuk pada semua kriteria yang harus dipenuhi untuk
menghasilkan produk tertentu. Penilaian secara holistik merujuk pada apresiasi
atau kesan secara keseluruhan atas produk yang dihasilkan.
3.
Penilaian
Portofolio
Penilaian portofolio merupakan penilaian atas kumpulan
artefak yang menunjukkan kemajuan dan dihargai sebagai hasil kerja dari dunia
nyata. Penilaian portofolio bisa berangkat dari hasil kerja peserta didik
secara perorangan atau diproduksi secara berkelompok, memerlukan refleksi
peserta didik, dan dievaluasi berdasarkan beberapa dimensi.
Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan
yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan
peserta didik dalam satu periode tertentu. Informasi tersebut dapat berupa
karya peserta didik dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik, hasil tes
(bukan nilai), atau informasi lain yang releban dengan sikap, keterampilan, dan
pengetahuan yang dituntut oleh topik atau mata pelajaran tertentu.Fokus
penilaian portofolio adalah kumpulan karya peserta didik secara individu atau
kelompok pada satu periode pembelajaran tertentu. Penilaian terutama dilakukan
oleh guru, meski dapat juga oleh peserta didik sendiri. Asesmen autentik adalah
pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik
untuk ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan
Memalui penilaian portofolio guru akan mengetahui
perkembangan atau kemajuan belajar peserta didik. Misalnya, hasil karya mereka
dalam menyusun atau membuat karangan, puisi, surat, komposisi musik, gambar,
foto, lukisan, resensi buku/ literatur, laporan penelitian, sinopsis, dan
lain-lain. Atas dasar penilaian itu, guru dan/atau peserta didik dapat
melakukan perbaikan sesuai dengan tuntutan pembelajaran.
Penilaian portofolio dilakukan dengan menggunakan
langkah-langkah seperti berikut ini.
a.
Guru
menjelaskan secara ringkas esensi penilaian portofolio.
b.
Guru atau
guru bersama peserta didik menentukan jenis portofolio yang akan dibuat.
c.
Peserta
didik, baik sendiri maupun kelompok, mandiri atau di bawah bimbingan guru
menyusun portofolio pembelajaran.
d.
Guru
menghimpun dan menyimpan portofolio peserta didik pada tempat yang sesuai,
disertai catatan tanggal pengumpulannya.
e.
Guru menilai
portofolio peserta didik dengan kriteria tertentu.
f.
Jika
memungkinkan, guru bersama peserta didik membahas bersama dokumen portofolio
yang dihasilkan.
g.
Guru memberi
umpan balik kepada peserta didik atas hasil penilaian portofolio.
4.
Penilaian
Tertulis
Meski konsepsi asesmen autentik muncul dari
ketidakpuasan terhadap tes tertulis yang lazim dilaksanakan pada era
sebelumnya, penilaian tertulis atas hasil pembelajaran tetap lazim dilakukan.
Tes tertulis terdiri dari memilih atau mensuplai jawaban dan uraian. Memilih
jawaban dan mensuplai jawaban. Memilih jawaban terdiri dari pilihan
ganda, pilihan benar-salah, ya-tidak, menjodohkan, dan sebab-akibat. Mensuplai
jawaban terdiri dari isian atau melengkapi, jawaban singkat atau pendek,
dan uraian.
Tes tertulis berbentuk uraian atau esai menuntut
peserta didik mampu mengingat, memahami, mengorganisasikan, menerapkan,
menganalisis, mensintesis, mengevaluasi, dan sebagainya atas materi yang sudah
dipelajari. Tes tertulis berbentuk uraian sebisa mungkin bersifat komprehentif,
sehingga mampu menggambarkan ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta
didik.
Pada tes tertulis berbentuk esai, peserta
didik berkesempatan memberikan jawabannya sendiri yang berbeda dengan
teman-temannya, namun tetap terbuka memperoleh nilai yang sama. Misalnya, peserta
didik tertentu melihat fenomena kemiskinan dari sisi pandang kebiasaan malas
bekerja, rendahnya keterampilan, atau kelangkaan sumberdaya alam. Masing-masing
sisi pandang ini akan melahirkan jawaban berbeda, namun tetap terbuka memiliki
kebenarann yang sama, asalkan analisisnya benar. Tes tersulis berbentuk esai
biasanya menuntut dua jenis pola jawaban, yaitu jawaban terbuka (extended-response)
atau jawaban terbatas (restricted-response). Hal ini sangat tergantung
pada bobot soal yang diberikan oleh guru. Tes semacam ini memberi kesempatan
pada guru untuk dapat mengukur hasil belajar peserta didik pada tingkatan yang
lebih tinggi atau kompleks.
permasalahan :
seperti yang kita ketahui penilaian autentik, semua hal dinilai dalam penilaian autentik. terutama afektif, penilaian autentik menitik beratkan pada sikap. lalu menurut teman-teman, sepengetahuan teman-teman apakah sekolah-sekolah pada umumnya saat ini telah menerapkan penilaian autentik dengan baik
?
Langganan:
Postingan (Atom)
